Paham dan sistem hidup material ini membawa dunia modern kepada situasi yang tidak menentu (uncertain). Bahkan tidak jarang ketidak menentuan itu dibentuk (designed) agar manusia yang sejatinya menjadi subyek (pelaku) kehidupan terbalik menjadi obyek (korban) demi keberlangsungan paham dan gaya hidup materialis itu.
Akibatnya manusia dalam hidupnya menjadi obyek dunianya. Sebuah realita yang menentang fitrah manusia sebagai “master” yang telah diberikan amanah oleh Pencipta untuk memiliki dan mengatur dunia ini. Posisi manusia sebagai khalifah (inni jaa’ilun fil-Ardhi khalifah) sejatinya merefleksikan realita amanah kepemilikan dan menejemen dunia dari Allah kepadanya.
Realita kehidupan manusia seperti di atas kemudian melahirkan kehidupan yang terasa “disoriented” (kehilangan arah) dan “meaningless” (kurang bermakna). Hal inilah yang kemudian menjadikan hidup manusia melahirkan “uncertainty” (ketidak menentuan), “confusion” (kebingungan), bahkan ragam “chaos” (hidup yang kacau balau).
Pertamyaan yang kemudian Umat ini harus tanyakan adalah dengan modal agama yang Haq (diinul haqq) bagaimana menghadirkannya agar menjadi solusi bagi Kompleksitas kehidupan modern manusia? (Bersambung….).
NYC Subway, 30 Desember 2022
*(catatan dari khutbah hari ini…).