opini

Mengapa Masih Ada yang Posting Hoaks?

Jumat, 2 Desember 2022 | 04:47 WIB
Rudi Ahmad Suryadi: Mengapa masih banyak yang menyebarkan berita hoaks?


Oleh:
Rudi Ahmad Suryadi

Seiring dengan perkembangan media sosial, penyebaran informasi turut membanjiri. Hampir setiap informasi, dalam beberapa detik bisa menyebar ke grup publik media sosial.

Perkembangan IT pada media sosial ini, pada satu sisi mempermudah komunikasi sosial. Namun, ketika tidak terbendung atau bahkan tidak dapat memilih mana berita yang benar dan baik, yang terjadi adalah timbulnya konflik sosial.

Awalnya bisa muncul akibat ketersinggungan kelompok tertentu akibat postingan dari subyek lain. Berita atau informasi dalam berbagai bentuknya hendaknya dipilih, dipilah, dan dipikirkan apa dampaknya ketika disebarkan. Sebab, media sosial berbeda dengan media massa.

Pada media sosial, pengendali informasi adalah yang membuat dan menyebarkan, atau hanya menyebarkan dari postingan orang lain. Sementara media massa, pengendali berita atau informasi adalah redaktur pada media massa. Yang kedua ini cenderung aman karena mengandalkan objektivitas dan profesionalitas dalam merangkum, meneliti, dan menyebarluaskan informasi.

Baca Juga: Penting! Inilah Cara Menghapus Jejak Digital di Internet

Banjirnya informasi akan berpeluang pada penyebaran hoaks dan ujaran kebencian. Informasi seperti ini cenderung banyak muncul ketika musim-musim politik. Pandangan atau kecenderungan politik cenderung berpotensi pada berita yang tidak benar, ujaran kebencian, dan menggiring opini untuk tidak menyukai kelompok tertentu.

Atau, terjadi pula ketika peristiwa tertentu. Untuk mengacaukan suasana, muncullah berita hoaks dan ujaran kebencian. Atau bisa juga akibat pandangan keagamaan, memosting ujaran kebencian sehingga meniumbulkan intoleransi dan konflik sosial.

Berita Hoaks di Internet
Internet menjadi sarana oknum tertentu untuk menyebarkan konten negatif. Keresahan dan saling curiga bisa ditimbulkan olehnya. Pada tahun 2020, Kemenkominfo mencatat sekitar 800rb situs di Indonesia yang terindikasi menyebarkan informai palsu.

Data ini sungguh luar biasa. Dari satu situs disebarkan ke beberapa ribu orang dampaknya luar biasa, apalagi bila seluruh konten pada data tersebut disebarluaskan pada orang yang lebih banyak. Informasi hoaks membanjiri fenomena informasi di Indonesia.

Baca Juga: DPC Partai Gerindra Kota Surabaya Bantu Warga Korban Gempa Cianjur

Penyebaran informasi hoaks dipengaruhi oleh tingkat literasi digital. Survei yang dilakukan oleh KIC bekerjasama dengan Kemenkominfo menemukan 30-60% orang Indonesia terpapar hoaks ketika mengakses dan berkomunikasi dunia maya. Sisanya 21-36% yang dapat memahami hoaks.

Sementara isu hoaks ketika survei dilakukan banyak terkait isu politik, kesehatan, dan agama. KIC menemukan adanya tingkat literasi yang rendah yang dihubungkan dengan kemampuan mengenali hoaks yang masih rendah.

Ada yang menarik dari survei ini. Indeks literasi digital di wilayah tengah dan timur Indonesua lebih baik daripada wilayah Barat (Jawa dan Sumatera). Indeks literasi digital memiliki korelasi positif dengan kemampuan pengenalan hoaks, tingkat pendidikan, usia yang lebih muda, jenis kelamin laki-laki, dan penggunaan internet yang tidak intensif.

Dari data ini, terindikasi bahwa penyebaran akses internet yang terjangkau mudah belum seiring dengan peningkatan kemampuan mengolah dan berpikir kritis terhadap informasi.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB