Oleh : Jacob Estere
Letupan pemikiran yang diekspresikan Rocky Gerung dalam bingkai akademik ingin membangun budaya akal sehat yang ugahari merupakan energi sekaligus potensi -- untuk membangun kelesuan dari gairah segenap warga bangsa yang depresi dan frustrasi akibat tekanan dari berbagai perwujudan sistem tata kelola negara dan bangsa yang tengah terperosok dan menukik pada lembah kehancuran.
Baca Juga: Forum Negarawan Ingin Membangun Bangsa dan Negara Berlandaskan Pada Etik Profetik (Bag 1)
Mulai dari masalah sengketa lahan, biaya hidup yang semakin mencekik, budaya politik yang saling memangsa, tradisi dalam niaga yang semakin buas dan liar hingga fondasi budaya dan agama yang dibiarkan rapuh, telah menjadi kecemasan umum yang meresahkan seperti peperangan terselubung yang terus menteror melalui peredaran narkoba, deras masuknya tenaga kerja asing sementara angkatan kerja di negeri sendiri dibiarkan memble jelas telah menyulut kegaduhan dan kemarahan yang terpendam, seperti bom waktu yang bisa memporak-porandakan semua tatanan yang telah dibangun.
Baca Juga: Tokoh Pemuda Cianjur Selatan Berharap Deden Nasihin Terpilih Kembali Menjadi Anggota Dewan
Dan upaya bangsa Indonesia untuk kembali kepada UUD 1945 yang asli, merupakan indikator dari dera derita yang yang tengah menahan rasa sakit itu. Karenanya, beragam diagnosa serta upaya penyembuhan harus segara dilakukan, sebelum terlambat dan menimbulkan sesal berkepanjangan dalam sejarah perjalan bangsa dan negara selanjutnya, sambil menggamit Pancasila sebagai mantra yang perlu kembali dilafaskan dalam setiap helaan nafas kita.
Agar tidak menjadi fosil yang cuma dikeloni oleh BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila). Sebab di dalam sila-sila dari Pancasila ini, butir-butir mutiara etik profetik lengkap dan harmoni saling menggenapi dalam laku spiritual setiap khalifah di muka bumi.
Dalam paparan Prof. Sri-Edi Swasono "Leadership With Statesmanship " anggota Forum Negarawan adalah pemimpin-pemimpin informal yang terpanggil untuk menyelamatkan Republik Indonesia melalui kenegarawanan dengan kebersamaan.
Antara Statesmanship dan leadership dalam perspektif kultural-tradisional Indonesia (Hasta Brata) meripakan seni memimpin negara dan bangsa, meski tidak harus berada di dalam pemerintahan.***