Urang Tatar Sunda Naik Haji, Bratalegawa Alias Haji Purwa, Gelar Haji bukan Pemberian Pemerintah Belanda (Bagian 2)
oleh : Nunu Ahmad Hamijaya
Dalam naskah Carita Parahiyang dikisahkan bahwa pemeluk agama Islam yang pertama kali di Tatar Sunda adalah Bratalegawa putra kedua Prabu Pangandipara Marta Jayadewatabrata atau Sang Bunisora penguasa Kerajaan Galuh (1357-1371). Ia menjadi raja menggantikan abangnya, Prabu Maharaja (1351-1357) yang gugur dalam Perang Bubat yaitu perperangan antara Sunda dengan Majapahit. Bratalegawa memilih hidupnya sebagai seorang saudagar, ia sering melakukan pelayaran ke Sumatera, China, India, Srilanka, Iran sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang muslimah dari Gujarat bernama Farhana Binti Mumamad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam sebagai orang yang pertama menunaikan haji di kerajaan Galuh. Ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa (Atja. 1981: 47).
Setelah menunaikan ibadah haji, Haji Purwa beserta istrinya kembali ke Galuh di Ciamis (1337 M). Di Galuh ia menemui adiknya, Ratu Banawti, untuk bersilaturrahmi sekaligus melaksanakan tugas mulya yaitu mengajaknya masuk Islam.Tetapi upaya itu tidak berhasil. Dari Galuh, Haji Purwa pergi ke Cirebon Girang untuk mengajak kakaknya, Giri Dewata atau Ki Gedeng Kasmaya yang menjadi penguasa Kerajaan Cirebon Girang, untuk memeluk Islam namun kakaknya pun menolak. Dari informasi di atas dapat dijadikan alasan bahwa jama’ah haji mempunyai peran yang berarti dalam penyampaian dan penyebaran Islam di Nusantara.
Walang Sungsang – Rarasantang
Satu abad kemudian, menurut Carita Purwaka Caruban Nagari dan naskah-naskah tradisi Cirebon seperti Wawacan Sunan Gunung Jati, wawacan Walang Sungsang, dan Babad Cirebon ada tokoh lainnya yang pergi Haji.
Dalam naskah-naskah tersebut disebutkan adanya tokoh lainnya yang pernah menunaikan ibadah haji yaitu Raden Walang Sungsang bersama adiknya Rarasantang. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi, Raja Sunda dan pernah berguru agama Islam kepada Syeikh Datuk Kahpi selama tiga tahun di Gunung Amparan Jati Cirebon.
Baca Juga: Nunu A. Hamijaya Penulis Sejarah Asal Cianjur, Bukunya Diminati Anggota Kedubes Amerika dan Pakistan
Atas saran sang guru, Walang Sungsang dan adiknya Rarasantang berangkat ke Mekah-diduga (1446-1447) atau satu abad setelah Bratalegawa untuk menunaikan ibadah haji dan menambah ilmu agama Islam. Dalam perjalanan ibadah haji, Rarasantang dinikahi oleh Syarif Abdullah, Sultan Mesir dari Dinasti Fatimiyah dan berputra dua orang yaitu Syarif Hidayatullah (1448) dan Syarif Arifin (1450). Sebagai seorang haji, Walang Sungsang kemudian berganti nama menjadi Haji Abdulah Iman, sedangkan adiknya Rarasantang juga berganti nama menjadi Hajjah Syarifah Mudaim.
Sementara itu dari kesultanan Banten, jama’ah haji yang dikirim pertama kali adalah utusan Sultan Ageng Tirtayasa. Ketika itu Sultan Ageng Tirtyasa berkeinginan memajukan negerinya baik dalam bidang politik diplomasi maupun di bidang pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain. (Tjandra Sasmita, 1995: 11) Pada tahun 1671 sebelum mengirimkan utusan ke Inggris, Sultan Ageng Tirtayasa mengirimkan putranya, Sultan Abdul Kahar, ke Mekah untuk menemui Sultan Mekah sambil menunaikan ibadah haji, lalu melanjutkan perjalanan ke Turki. Karena kunjungannya ke Mekah dan menunaikan ibadah haji, Abdul Kahar kemudian dikenal dengan sebutan SULTAN HAJI. (Henri Chambert-Loir dalam Naik Haji di Masa Silam (2013: 33-34) Sebelumnya, beberapa bangsawan Banten sudah berangkat haji juga pada tahun 1638 dan 1651. Sepulang dari Mekah, mereka menyematkan gelar “haji” di depan namanya, yaitu Haji Jayasantana dan Haji Wangsaraja, lalu Haji Fatah.***
Nunu Ahmad Hamijaya adalah penulis buku Titiknol Kehendak Berpemerintahan Sendiri (Zelfbestuur 1916),2018, Toedjoeh Kata,2019, Tjisajong dan Bangka : Revolusi Islam Bernegara di Indonesia (1916-1962), terbit 2021 dan Negeri 3 Proklamasi, 2022 (Penerbit Pusbangter).