Dengan situasi kehidupan manusia seperti inilah sejatinya hidayah hadir untuk mengarahkan kembali ke arah yang benar dan baik. Hidayah pada esensi ini dimaknai sebagai “direction of life”. Sehingga kehidupan manusia tidak saja jelas arahnya. Tapi juga memilki makna atau nilai yang tinggi. Nilai yang akan menjadi bekal kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Ketiga, bahwa bulan Ramadan telah menjadi bulan Ihsan. Ramadan mentransformasi hidup menusia dari hidup yang bertendensi egoistik menjadi hidup yang memiliki tendensi ihsan atau nilai-nilai kebaikan.
Ihsan adalah tingkatan tertinggi dari religiositàs seseorang. Dari kesadaran Islam, terbangun iman, dan pada akhirnya tumbuh nilai ihsan dalam kehidupan.
Baca Juga: Fenomena Shalat Id Ala Pesantren Al Zaytun
Ihsan itu memiliki dua sisi. Ada sisi vertikal. Yaitu terbangunnya kesadaran bersama Allah dalam setiap detak pergerakan nadi (an ta’budallah kaanaka taraahu…). Lalu ada sisi horizontalnya. Yaitu kesadaran jiwa untuk melakukan dan menyebarkan kebaikan kepada sesama makhluk Allah SWT.
Ramadan telah mentransformasi manusia menjadi insan-insan ihsan. Baik pada tataran vertikal dengan hati dan jiwa yang semakin sensitif dengan “al-ma’iyah billah” (kebersamaan dengan Allah). Dan tentunya juga pada tataran horizontal dengan terbangunnya kesadaran untuk terus berbuat baik kepada semua makhluk Allah SWT .
Keempat, bahwa Ramadan telah mentransformasi kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu manusia, dari hawa nafsu yang merusak (destructive desires) kepada hawa nafsu yang menjadi jalan kebaikan (constructive desires). Hawa nafsu sesungguhnya adalah bagian alami bahkan mendasar dari kehidupan. Tanpa hawa nafsu hidup manusia akan terhenti. Sayangnya seringkali hawa nafsu justeru berbalik menjadi jalan keburukan dan kerusakan bagi manusia dan alam sekitarnya.
Ramadan telah hadir mentransformasi keinginan-keinginan (hawa nafsu) manusia menjadi lebih terarah, jinak dan terkontrol. Sehingga manusia menjadi tuan dari hawa nafsunya. Bukan budak-budak hawa nafsu. Berbagai kerusakan baik di darat maupun di laut (dan di udara) disebabkan oleh tangan-tangan manusia yang diperbudak oleh hawa nafsunya.
Kelima, bahwa Ramadan telah hadir mentransformasi karakter manusia. Karakter manusia itu lebih dikenal dalam agama dengan akhlak. Dengan akhlak ini religiositas seseorang terukur. Ketinggian nilai akhlak manusia menjadikannya memilki ketinggian pula dalam beragama.
Karena itu karakter atau akhlak yang mulia seolah menjadi kesimpulan dari misi dakwah Rasulullah SAW: “sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan kemuliaan Akhlaq manusia”. Bahkan Allah menyampaikan pujian khusus dalam Al-Quran juga karena akhlaknya: “sesungguhnya engkau wahai Muhammad memiliki akhlak yang tinggi” (Al-Qalam).
Keenam, bahwa Ramadan telah mentransformasi kemanusiaan bersama kita (our common humanity). Kemanusiaan universal kita adalah pijakan bersama inilah yang menjadi pengikat dalam relasi, menembus segala sekat-sekat yang ada. Kemanusiaan bersama manusia (common humanity) menjadi pijakan terpenting dalam membangun koneksi antar manusia. Sebuah pijakan yang menjadi tuntutan, terlebih di saat manusia tersekat oleh sekatan-sekatan sempit, termasuk ras, suku, warga kulit, budaya dan seterusnya.
Ramadan mengajarkan bahwa kemanusiaan kita tidak pada eksistensi lahir dan fisik manusia. Tapi ada pada sisi spiritualitas manusia. Dan karenanya spiritualitas ini tidak dibatasi oleh apapun pada manusia. Siapapun dan apapun latar belakangnya dapat menjadi mulia dan terhormat. Karena esensi kemanusiaan itu sama pada semua manusia. Kesadaran kemanusiaan itulah sejatinya yang dikenal dengan ketakwaan. Dan ini pula yang menjadi kriteria kemuliaan dari seseorang, sekaligus menjadi tujuan terutama dari puasa Ramadan itu sendiri (la’allakum tattaquun).
Baca Juga: Putri Hijab Indonesia Jawa Timur 2023 Gelar Pelatihan Bahasa Isyarat dan Pemeriksaan Gigi Gratis
Ketujuh, bahwa Ramadan telah mentransformasi kehidupan Komunitas atau kehidupan jama’i kita. Dengan puasa Ramadan kita semakin tersadarkan bahwa kita hidup bukan sendirian. Kita adalah makhluk sosial yang selalu terikat dengan sesama manusia, bahkan dengan alam lainnya. Dengan puasa kita meminimalisir keegoan itu demi terbangunnya kesadaran sosial (jama’i).
Berbicara tentang komunitas tentu sangat luas cakupannya. Tapi minimal di bulan Ramadan ini kita tersadarkan oleh dua hal. Pertama, bahwa fondasi kehidupan jama’i kita ada pada keluarga kita. Dan karenanya semoga selama Ramadan kita telah merekonstruksi kembali hubungan kekeluargaan kita yang tercabik-cabik justeru oleh kemajuan duniawi. Kemajuan teknologi khususnya di bidang media sosial menjadikan relasi antar manusia semakin berjarak, termasuk relasi antar anggota keluarga.