opini

Kaya vs Hedonisme

Rabu, 1 Maret 2023 | 05:36 WIB
Ilustrasi Kaya (Photo by Aukid phumsirichat: https://www.pexels.com/)

Apalagi kalau harta tidak seberapa yang dimiliki itu tidak dibandingkan dengan banyak orang lain yang Allah uji dengan harta dunia, juga dicurigai dari sumber-sumber haram.

Baca Juga: Islamophobia di Eropa dan Amerika

Saya teringat sebuah cerita bersama Michael Bloomberg. Beliau ini adalah salah seorang billionaire dunia. Kekayaannya tidak kurang dari 78 Milyar $UD. Di sebuah konferensi pers ada seorang wartawan yang melihat sepatu yang dipakainya sudah ada sobekan.

Wartawan itu bertanya: Kenapa Walikota Bloomberg tidak membeli sepatu baru?”. Jawaban beliau: “saya pakai sepatu ini karena senang dan nyaman dengannya. Bukan agar kalian senang dan nyaman”.

Baru-baru ini saya ketemu Ilhan Omar, seorang anggota Kongress US yang cukup masyhur. Beliau sangat sederhana dalam membawa diri. Pakaiannya sederhana. Hampir tiada make up di wajahnya.

Bandingkan dengan sebagian orang yang kekayaannya sebenarnya tidak seberapa. Apalagi kekayaan itu kemungkinan dari sumber yang haram pula. Tapi gaya hidupnya terlalu pamer dan hedonis. Atau pejabat yang cenderung paker kekuasaan sementaranya yang cenderung merendahkan warganya.

Sebenarnya dengan kekayaan yang dimilikinya seseorang boleh saja hidup nyaman. Tapi hidup nyaman tidak harus pamer. Hidup nyaman lebih kepada menikmati apa yang Allah karuniakan. Walaupun demikian sesungguhnya hidup dengan nyaman bisa menjadi sumber fitnah, keluar dari norma-norma kewajaran (kesesuaian). Karenanya menikmati tidak harus dengan dengan tendensi “kemewahan” yang berkonotasi berlebihan.

Hanya saja diakui bahwa manusia itu memang lemah. Mental manusia itu rapuh. Dan karenanya seringkali keinginan menikmati dunia justeru menjadi jembatan hidup berlebihan, bahkan hedonis.

Yang lebih fatal lagi ketika kecenderungan hedonisme itu dibarengi oleh perasaan paling kaya dan paling kuat. Akibatnya timbul kecenderungan menggunakan karunia itu untuk arrogan dan merendahkan orang lain. Seolah dunia semuanya telah ada dalam genggamannya.

Kehebohan seorang pegawai pajak Indonesia yang berimbas kepada arogansi anaknya melakukan kekerasan kepada seorang remaja lainnya hanya contoh kecil dari kerusakan mental akibat dunia. Bahkan gaya hidup hedonis seringkali terekspresikan tanpa konsideran kepada penderitaan mereka yang tidak berpunya.

Kemampuan memiliki fasilitas motor mewah misalnya tidak harus dipamer-pamerkan, terlebih di saat pemerintah selalu menyampaikan acaman resesi yang mengkhawatirkan saat ini. Jangan bersikap paradoks. Anda ingatkan resesi tapi anda pamer kekayaan di jalan.

Baca Juga: Ilhan Omar dan Rasisme Politik Amerika

Terlebih sekali lagi penampilan pamer dan hedonis itu, sekali lagi, kenyataannya hanya dengan kekayaan yang tidak seberapa dibandingkan dengan orang-orang kaya dunia. Itupun dicurigai ada sumber-sumber yang tidak halal dalam prosesnya. Masanya semua orang sadar bahwa karunia apapun itu harusnya untuk disyukuri. Bukan untuk menjadi keangkuhan dan pamer kepada orang lain.

Orang kaya dengan kekayaannya, pejabat dengan jabatannya, orang terkenal dengan pupularitasnya, dan semua karunia untuk disyukuri dan demi kemanfaatan luas. Orang kaya ditakdirkan kaya untuk membantu yang miskin. Pejabat ditakdirkan untuk menjabat untuk melayani masyarakatnya. Bukan untuk pamer dan angkuh kepada orang lain di sekitarnya.

Sekaya apapun kamu, Bill Gates, Warren Buffet, Jen Besos, Ellon Musk, dan banyak lainnya jauh lebih kaya.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB