opini

Kepemimpinan yang Dibutuhkan NU

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:12 WIB
Gus Gudfan. (FOTO: Ist)

Membicarakan Gus Gudfan tidak bisa hanya memakai kacamata organisasi modern. Ia harus dibaca dengan perangkat yang lebih luas: sejarah wali, sosiologi pesantren, politik Islam Nusantara, tarekat, ekonomi umat, serta masa depan NU ketika memasuki abad keduanya.

Tetapi pada saat yang sama, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme. Muktamar ke-35 adalah penentuan arah organisasi di tengah tantangan nyata: transformasi digital, penguatan ekonomi umat, dinamika politik, dan posisi NU di tengah peradaban global yang berubah cepat. Karena itu, pertanyaan yang lebih dalam bukanlah semata "apakah ia layak memimpin?", melainkan: jenis kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU hari ini?

Gus Gudfan menawarkan satu jawaban: kepemimpinan yang tidak lahir dari panggung, tetapi dari malam dari keheningan pesantren, dari pengabdian yang tidak banyak bicara, dari rekam jejak yang berbicara sendiri. Ia adalah figur yang namanya tidak perlu diagung-agungkan, tetapi layak dicermati secara jernih: sebagai seorang anak pesantren, pengusaha, bendahara, dan kini kandidat pemimpin, yang mencoba mempertemukan tradisi dan masa depan NU dalam satu tarikan napas.

Di tengah hingar-bingar bursa calon, nama Gudfan Arif Ghofur adalah pengingat bahwa kepemimpinan sejati sering kali tidak berteriak, tetapi mengalir dari malam yang sunyi menuju fajar yang akan menyinari NU di abad keduanya.

Halaman:

Tags

Terkini

Kepemimpinan yang Dibutuhkan NU

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:12 WIB

Merdeka dari Kemiskinan

Senin, 17 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB