JOURNALNUSANTARA.COM - Rasa cemas kerap menyelimuti sebagian masyarakat saat memasuki bulan Safar. Anggapan kuno yang menyebut Safar sebagai bulan pembawa kesialan masih menyisakan prasangka di tengah kehidupan modern.
Padahal, kepercayaan terhadap hari atau bulan buruk tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Anggapan mistis semacam itu hanyalah mitos yang diwariskan secara turun-temurun tanpa landasan rasional.
Ditekankan perihal pentingnya meluruskan stigma negatif tersebut. Safar justru dipandang sebagai Safar al-Khair, yakni bulan yang penuh dengan potensi kebaikan dan keberkahan.
Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW berulang kali membantah mitos kesialan Safar melalui tindakan nyata. Rasulullah memilih bulan tersebut untuk momentum penting, termasuk pernikahan putri beliau, Sayyidah Fatimah, hingga mengawali perjalanan hijrah.
Setiap waktu pada hakikatnya bernilai netral dan berada penuh dalam kekuasaan Allah. Nasib buruk atau musibah yang dialami manusia tidak disebabkan oleh pergantian bulan, melainkan takdir serta hasil dari tindakan manusia itu sendiri.
Menghapus keyakinan mistis membutuhkan pola pikir positif dan penyerahan diri secara utuh. Prasangka buruk hanya membatasi ruang gerak dan merusak kedamaian batin dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Seseorang perlu mengimbangi usaha maksimal dengan sikap tawakal. Berikhtiar secara profesional dan menyerahkan hasil akhir kepada Tuhan menjadi kunci utama untuk mengikis rasa cemas berlebihan.
Safar seharusnya dimaknai sebagai ruang untuk berbuat baik dan memperkuat optimisme. Keberkahan sebuah bulan sangat bergantung pada bagaimana manusia mengisi waktu tersebut dengan tindakan yang bermakna.