Namun, kerja sama yang bermartabat hanya mungkin terjadi apabila setiap bangsa berdiri dengan mandiri, percaya diri.
Persaudaraan sejati bukan hubungan antara pihak yang terus bergantung dan pihak yang terus memberi.
Persaudaraan sejati adalah hubungan antara mereka yang sama-sama memiliki martabat.
Di sinilah kedaulatan pangan menemukan landasan moralnya. Bukan semata didasarkan pada logika ekonomi maupun politik. Melainkan pada etika.
Ada sebuah ajaran moral sederhana tetapi mendalam:
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
Kalimat ini bukan ajaran tentang kesombongan. Bukan pula tentang siapa lebih tinggi dan siapa lebih rendah. Ia adalah ajaran tentang tanggung jawab.
Bahwa manusia, masyarakat, dan bangsa memiliki kewajiban mengembangkan segala anugerah yang dipercayakan kepadanya agar mampu memberi manfaat bagi sesama.
Bertanggung jawab sebagai khalifah penjaga bumi di tanah sekitar pekarangannya masing-masing. Karena ajaran moral juga menekankan keharusan kita mendahulukan kebajikan dan keselamatan makhluk dalam lingkungan terdekat.
Indonesia diberi tanah yang di banyak tempat relatif subur.
Diberi matahari sepanjang tahun.
Diberi iklim yang memungkinkan beragam tanaman tumbuh.
Diberi salah satu kekayaan hayati pangan terbesar di dunia.
Semua itu bukan sekadar hak untuk dinikmati, melainkan juga sebagai amanah.
Dan setiap amanah selalu membawa tanggung jawab.