Oleh: Yudi Latif
Tak ada bunyi menandai kapan pagi berubah jadi petang. Tak ada daun meranggas mengisyaratkan masa muda memasuki musim gugur.
Suatu hari aku terjaga dengan lutut terasa berkarat, punggung memikul endapan musim, napas mulai lupa irama.
Cermin tak pernah bohong, hanya menunjukkan bahwa keriput adalah kalender yang ditulis waktu dengan tinta tak kasat.
Kukira setiap langkah mengejar masa depan, padahal setiap berpijak meniti jalan pulang.
Bertahun-tahun aku sibuk memindahkan hari dari satu kotak ke kotak lain, menyusun daftar, mengejar angka, memenuhi kewajiban.
Kupikir sedang membangun kehidupan. Ternyata hanya membangun kesibukan.
Ketika menoleh, jalan di belakang tak banyak jejak, kecuali debu yang segera dihempas angin.
Ke mana perginya pagi yang tergesa, malam yang kutukar dengan cemas, dan mimpi yang lamat kehilangan pemiliknya?
Umur bukan soal hitungan tahun, melainkan jarak antara hati dan kesadaran bahwa segala sesuatu sedang berlalu.
Tua adalah saat seseorang sadar tak ada satu pun hari yang dapat dipanggil kembali.
Lalu apa arti hidup, jika akhirnya rumah berpindah tangan, nama menghilang, dan tubuh kembali ke tanah?
Mungkin hidup bukan tentang lamanya tinggal, melainkan dalamnya hadir.
Yang paling mahal bukanlah usia, melainkan perhatian: memandang wajah yang kita kasihi seolah itulah wajah terakhir yang ditampakkan semesta.