Oleh: Yudi Latif
Wahai pagi, mengapa aku merasa tak berarti?
"Karena kau mengukur arti dari seberapa banyak dunia berubah oleh tanganmu. Kau mengira hidup baru layak disebut bermakna bila luka-luka yang kau pahami berhasil kau sembuhkan. Ketika kenyataan tetap membatu, kau pun mengira dirimu gagal.
Padahal tidak semua kebekuan kenyataan adalah cermin ketidakberdayaanmu. Ada luka yang telah mengendap begitu lama sehingga bertahan.
Bukan karena tak seorang pun mengenali sakitnya, melainkan karena manusia masih mencari jalan untuk mengobatinya.
Kau mungkin telah melihat pangkal deritanya, tetapi mengetahui akar persoalan belum berarti memiliki kuasa untuk menyelesaikannya seorang diri.
Karena itu, arti bukan diukur dari seberapa banyak dunia berubah oleh tanganmu, melainkan dari keteguhanmu untuk tidak membiarkan kebenaran ikut tenggelam bersama keputusasaan.
Sebab tak semua cahaya ditakdirkan menjadi matahari; ada yang cukup menjadi fajar datang lebih dulu, tampak lemah, namun diam-diam menyiapkan langit agar akhirnya sanggup menerima terang."