Oleh: Muhammad Abdul Aziz (Komisariat PMII STAI Kharisma Sukabumi)
Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, isu mengenai kesetaraan gender masih menjadi pembahasan yang sering terdengar di mana-mana.
Masih banyak orang yang menganggap bahwa kesetaraan gender hanyalah tentang perempuan yang ingin memiliki posisi sama dengan laki-laki.
Padahal, lebih dari itu, kesetaraan gender berbicara tentang bagaimana setiap manusia mendapatkan hak, kesempatan, dan perlakuan yang adil tanpa dibatasi oleh gendernya.
Tanpa kita sadari, di lingkungan sekitar kita masih banyak terjadi pelabelan tertentu terhadap laki-laki dan perempuan, atau yang kerap disebut dengan stereotip.
Perempuan sering dianggap lebih cocok berada di ranah domestik, sementara laki-laki dituntut untuk selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Pola pikir seperti ini perlahan membentuk batas-batas yang membuat seseorang sulit berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Kesetaraan gender bukan berarti menghilangkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, melainkan menghargai perbedaan tersebut tanpa menjadikannya alasan untuk membedakan hak dan kesempatan.
Setiap orang berhak memiliki mimpi, mengenyam pendidikan, mendapatkan pekerjaan, bahkan memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat tanpa takut diremehkan hanya karena gendernya.
Melalui refleksi ini, kita dapat memahami bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Menghargai pendapat orang lain, menghindari ucapan yang merendahkan gender tertentu, dan membiasakan diri bersikap adil merupakan bentuk sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, kesetaraan gender bukan hanya tentang perempuan ataupun laki-laki, melainkan tentang menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi, saling menghargai, dan memberikan ruang yang sama bagi setiap individu untuk berkembang.