Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, di antara dentang lonceng gereja dan gema azan di langit senja, ada satu nama yang terus disebut dengan hormat: Isa Almasih. Yesus Kristus.
Namanya melintasi gurun tua, biara, masjid, dan rumah sunyi yang dipenuhi doa ibu bagi anak-anaknya di dunia yang rapuh oleh kebencian.
Dua agama memandang kisah-Nya dengan cara berbeda: tentang salib, tubuh yang tergantung di antara bumi dan langit, apakah paku benar menembus daging, atau Allah menyelamatkan hamba-Nya dengan rahasia yang tak sepenuhnya tersingkap bagi manusia.
Namun keduanya menengadah ke langit yang sama. Sama-sama percaya Isa (Yesus) tak berakhir dalam kehinaan.
Tuhan meninggikan, memuliakan, mengangkat-Nya ke langit, dan menjaga nama-Nya sampai akhir zaman. Dan kelak Ia akan kembali sebagai juru selamat bagi dunia yang terluka.
Di titik itu keduanya bertemu: Kristen melihat Yesus sebagai cinta yang rela terluka demi penebusan, Islam melihat Isa sebagai nabi suci yang dimuliakan Allah.
Yang satu pengorbanan, yang lain perlindungan Ilahi. Namun keduanya menolak merendahkan-Nya dan sama-sama meninggikan Dia di tempat yang luhur.
Mungkin di situlah pelajaran terbesar: kasih Tuhan lebih luas daripada kebencian manusia atas nama-Nya.
Sebab langit tidak bertanya siapa paling keras berseru, tetapi siapa yang memberi makan yang lapar, memeluk yang tersisih, menjaga iman tak jadi alasan untuk melukai, dan mengasihi sesama meski berbeda doa.
Keselamatan tidak lahir dari keseragaman tafsir, melainkan ketika manusia tetap memilih kasih meski tak sepakat.
Isa Almasih hadir sebagai tanda bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia dalam gelap kekerasan dan kesombongan.
Dan ketika Ia kembali, yang dipermalukan bukan yang berbeda keyakinan, melainkan yang memakai nama Tuhan untuk menabur kebencian.
Pada akhirnya, langit berbisik: jangan biarkan perbedaan menghapus kemanusiaan, dan jangan biarkan tafsir mengalahkan belas kasih.