Journalnusantara.com - Mencegah anak mengalami trauma akibat bullying memerlukan pendekatan proaktif dan kolaboratif dari orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar. Inti dari pencegahan adalah membangun ketahanan diri (resiliensi) yang kuat pada anak, sehingga mereka memiliki benteng emosional untuk menghadapi situasi sulit.
Langkah pertama adalah menciptakan komunikasi terbuka dan aman di rumah. Orang tua harus menjadi pendengar aktif, mendorong anak untuk bercerita tanpa takut dihakimi atau diremehkan. Dengan demikian, anak akan merasa nyaman untuk mengungkapkan jika mereka mulai mengalami tanda-tanda perundungan. Validasi perasaan mereka adalah kunci. Hindari kalimat seperti "Jangan cengeng," atau "Hadapi saja," yang justru membuat anak menyembunyikan masalah.
Selanjutnya, ajarkan anak keterampilan sosial dan ketegasan (assertiveness). Ajari mereka cara menolak, cara meminta bantuan, dan cara mempertahankan batas diri tanpa harus bersikap agresif. Latihan peran (role-playing) adalah metode efektif untuk mengajarkan anak bagaimana merespons pelaku bullying dengan tenang dan lugas, alih-alih merespons dengan rasa takut yang berlebihan.
Orang tua juga harus memantau lingkungan sosial anak dan menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Pastikan sekolah menerapkan kebijakan anti-bullying yang tegas dan konsisten. Jika insiden terjadi, intervensi harus dilakukan segera dan suportif, fokus pada pemulihan emosional korban, bukan hanya hukuman bagi pelaku. Mendorong anak untuk memiliki lingkaran pertemanan yang positif dan mendukung juga sangat penting, karena dukungan sosial adalah salah satu faktor pelindung terkuat melawan dampak psikologis trauma bullying. Melalui langkah-langkah pencegahan ini, kita dapat melindungi masa depan psikologis anak.