Oleh: MJ Wijaya
Kesalehan sejati tidak hanya berada di atas sajadah atau terbatas pada hubungan pribadi dengan Tuhan. Kesalehan memiliki sisi lain yang lebih luas: kesalehan sosial. Sayangnya, di tengah arus modernitas yang semakin individualis, dimensi sosial dari kesalehan ini perlahan memudar, bahkan menghilang.
Manusia modern kini dipuji karena kebebasannya, namun di sisi lain terasingkan. Modernitas memang menciptakan kota-kota megah, teknologi canggih, dan gaya hidup praktis. Namun, di balik itu, ada jurang kesenjangan sosial, anak-anak terlantar, buruh yang terpinggirkan, dan tetangga yang tidak lagi saling mengenal. Banyak orang kini sibuk mengejar kesalehan ritual seperti salat, doa, dan zikir, tetapi sering kali abai terhadap penderitaan sesama.
Ironisnya, realitas hari ini seolah menertawakan ajaran ilahi. Kesalehan kini dipersempit menjadi ritual pribadi, sementara aspek sosialnya diabaikan. Orang-orang berlomba membangun masjid megah, tetapi tidak peduli dengan anak jalanan yang tidur di emperannya. Mereka melafalkan doa-doa panjang, namun tuli terhadap jeritan buruh miskin yang gajinya diperas oleh sistem yang rakus.
Data empiris memperkuat ironi ini. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2024 mencatat 25,22 juta jiwa penduduk Indonesia masih hidup dalam kemiskinan, setara dengan 9,36% dari total populasi. Yang lebih mengejutkan, 4,04 juta jiwa di antaranya masuk kategori miskin ekstrem, dengan pengeluaran harian kurang dari Rp11.000.
Sementara itu, laporan Oxfam menunjukkan bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai lebih dari 45% kekayaan nasional, sementara mayoritas rakyat berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Budaya individualisme juga semakin mengakar. Sebuah survei dari LSI (2023) menunjukkan bahwa 61,3% masyarakat perkotaan di Indonesia merasa tidak mengenal tetangga dekatnya. Fenomena ini menjadi tanda bahaya bahwa ikatan sosial yang dulu kuat melalui gotong royong kini terkikis oleh gaya hidup urban yang egoistis.
Inilah paradoks modernitas religius: masyarakat semakin religius secara simbolik, tetapi kering secara etika. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Kuntowijoyo, seharusnya agama menjadi kekuatan transendental yang membebaskan, bukan sekadar ritual yang mengurung manusia dalam egoisme spiritual.
Kesuksesan kini dipahami sebagai pencapaian personal, bukan keberkahan kolektif. Nilai-nilai gotong royong, kepedulian, dan solidaritas sosial terkikis, digantikan oleh mentalitas "urusan saya milik saya, urusanmu tanggung sendiri." Inilah titik terlemah dari modernitas: manusia menjadi asing bagi sesamanya.
Lantas, akan dibawa ke mana wajah kesalehan umat jika terus begini? Kesalehan sosial yang seharusnya menjadi penopang kehidupan bersama telah digantikan oleh kesalehan semu yang hanya berfokus pada simbol dan ritual. Jika hal ini terus terjadi, agama akan kehilangan daya revolusionernya. Ia hanya akan menjadi penenang batin, bukan penggerak perubahan sosial.
Kita harus kembali menghidupkan kesalehan sosial peduli pada tetangga, berbagi dengan yang lapar, melindungi yang lemah, dan menegakkan keadilan bagi yang tertindas. Sebab, tanpa dimensi sosial, kesalehan hanya akan menjadi ilusi kesalehan yang mandul, tanpa daya hidup, dan hanya menjadi ornamen dalam pesta modernitas yang individualistis.
Kesalehan sosial adalah wajah kemanusiaan dari agama. Melupakannya sama saja dengan melupakan roh dari ibadah itu sendiri.
Alas Mentaok, Agustus 2025