opini

Trump: Indonesia Tak Penting?

Selasa, 15 Juli 2025 | 15:53 WIB
Donald Trump (IG/@whitehouse)

Trump tidak lagi menyembunyikan niatnya. Dalam surat resmi kepada 14 negara, ia menyatakan bahwa setiap upaya menaikkan tarif terhadap produk Amerika akan dibalas dengan tambahan tarif 25%.

Ancaman ini memperlihatkan bahwa tarif dagang telah beralih fungsi: dari alat perlindungan ekonomi menjadi senjata politik global dan sekaligus hegemoni AS dalam menekan negara-negara tertentu di dunia.

Trump juga menegaskan bahwa siapa pun yang menentang kebijakannya akan menghadapi tarif lebih tinggi. Pendekatan semacam ini mencerminkan diplomasi gaya lama yang mengandalkan tekanan sepihak dan mengabaikan dialog setara.

Oleh karena itu, negara-negara seperti Indonesia harus memahami bahwa permainan perdagangan global kini dipimpin oleh politik intimidatif, bukan prinsip multilateral.

Melihat tebang pilih Trump dalam memasang tarif dagang mendorong Indonesia harus bersikap dan tidak untuk menerima atau bersikap pasif. Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah taktis seperti mengkaji ulang seluruh struktur perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat. Setidaknya, Indonesia harus berani memperluas pasar ekspor ke negara-negara yang tidak tunduk pada sistem tarif sepihak.

Indonesia harus kini harus lebih berani. Indonensia harus membuka terobosan baru di antaranya, menginisiasi koalisi dagang regional dan global berbasis keadilan dan resiprositas. Kemudian, mengembangkan jalur diplomasi langsung ke pemimpin-pemimpin berpengaruh. Jika langkah-langkah ini tidak segera diambil, Indonesia akan terus menjadi sasaran empuk kebijakan sepihak dari negara besar.

F-15: Apakah Masih Relevan?

Di tengah serangan tarif ini, publik mempertanyakan rencana pembelian pesawat tempur F-15 dari Amerika Serikat yang tengah menghukum kita secara ekonomi. Kebijakan pembelian alusista terkesan tidak konsisten.

Apabila kita tetap melanjutkan pembelian miliaran dolar, maka kita justru mendanai negara yang menyulitkan ekspor. Pemerintah sebaiknya meninjau ulang rencana tersebut dan mempertimbangkan sumber alternatif lain. Kedaulatan ekonomi harus sejajar dengan kedaulatan pertahanan.

Rencana pembelian F-15 patut dievaluasi kalau tidak relavan tak ada salahnya dibatalkan. Bukankah pembeli itu raja?
Kegagalan diplomasi 550 triliun bukan semata-mata kesalahan teknis.

Ini akibat dari kurangnya akses langsung, lemahnya lobi personal, serta absennya strategi komunikasi yang tajam. Diplomasi modern menuntut lebih dari sekadar dokumen dan proposal. Indonesia harus belajar dari kasus ini.

Indonesia harus membangun sistem diplomasi strategis yang menggabungkan kekuatan ekonomi, pengaruh kawasan, dan komunikasi langsung ke pusat kekuasaan.

Kejadian ini menjadi panggilan kebangkitan. Indonesia tidak boleh lagi menjadi objek kebijakan global. Indonesia harus naik kelas sebagai subjek yang mampu membentuk arah hubungan internasional.

Kekuatan diplomasi Indonesia harus dibangun ulang. Indonesia perlu mengembangkan jalur negosiasi aktif, memperkuat posisi ASEAN, serta membangun aliansi dengan kekuatan non-Barat seperti BRICS dan Uni Afrika.

Kedaulatan tidak akan datang dari belas kasihan, tetapi dari keberanian dan konsistensi. Tarif 32% yang dikenakan AS kepada Indonesia adalah peringatan keras. Komitmen investasi ratusan triliun rupiah tidak mampu menyelamatkan kita dari tekanan ekonomi global. Trump telah menunjukkan bahwa dunia kini digerakkan kekuatan, bukan keadilan.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB