opini

Ajaran Yahudi: Di antara Monoteisme Ketat dan Etnosentrisme Teologis

Minggu, 6 Juli 2025 | 13:00 WIB
Pemukiman Yahudi di tepi Barat (Foto: Dok. Kasih Palestina)

Oleh: MJ. Wijaya

Judaisme, atau ajaran Yahudi, sering disebut sebagai akar dari tiga agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Ia diakui sebagai agama monoteistik pertama yang menolak politeisme dengan sangat tegas, bahkan hingga pada titik eksklusivisme teologis.

Namun, di balik klaim monoteisme dan moralitas ilahi yang dibawanya, ajaran Yahudi juga mengandung dimensi kompleks yang tidak jarang menimbulkan kontroversi filosofis, etika, dan historis. Teks-teks kanonik Yahudi seperti Tanakh (Torah, Nevi’im, Ketuvim) maupun Talmud mengandung ajaran yang di satu sisi menawarkan spiritualitas yang mendalam, tetapi di sisi lain juga memuat konstruksi identitas yang kental akan etnosentrisme dan superioritas kolektif.

Tauhid yang Tegas: Elohim Bukan Sekadar Tuhan

Ajaran paling fundamental dalam Yahudi adalah Shema Yisrael “Dengarlah, hai Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa” (Ulangan 6:4). Ini bukan hanya pengakuan teologis, melainkan juga deklarasi nasional.

Elohim bukan sekadar Tuhan universal, tetapi Tuhan milik eksklusif Israel. Dalam banyak bagian Tanakh, Allah Yahudi adalah Tuhan yang “memilih” Israel dari bangsa-bangsa lain dan “mengutuk” atau “membinasakan” mereka yang melawan Israel (lih. Ulangan 7:6–10).

Dalam kerangka ini, tauhid Yahudi tidak selalu universalistik sebagaimana dalam Islam, tetapi partikularistik: Tuhan adalah satu, tetapi Ia berpihak. Ini menimbulkan kritik dari banyak filsuf agama, termasuk Hermann Cohen, Franz Rosenzweig, dan bahkan pemikir Yahudi modern seperti Emmanuel Levinas, yang mencoba mendamaikan antara monoteisme ketat dan keterbukaan etis terhadap sesama manusia di luar komunitas Yahudi.

Konsep Bangsa Pilihan: Berkah atau Bahaya?

Salah satu ajaran paling kontroversial adalah ide bahwa Yahudi adalah am segulah “bangsa pilihan”. Konsep ini muncul berulang kali dalam Torah, seperti dalam Keluaran 19:5 dan Ulangan 14:2.

Sekilas, ini memberikan semangat kolektif dan identitas teologis yang kuat. Namun, ide ini juga membuka ruang bagi eksklusivisme dan justifikasi teologis atas perlakuan diskriminatif terhadap goyim (bangsa non-Yahudi).

Beberapa teks Talmud bahkan secara problematik menampilkan pemisahan nilai moral antara Yahudi dan non-Yahudi. Misalnya, dalam Sanhedrin 57a, terdapat diskusi tentang nilai nyawa non-Yahudi yang dalam interpretasi literal berbeda statusnya dari nyawa Yahudi.

Meskipun interpretasi modern banyak menolak bacaan ini secara harfiah, tetap saja muncul pertanyaan: dapatkah agama menjadi sumber etika universal jika doktrin teologisnya membedakan moralitas berdasarkan etnis atau garis nasab?

Hukum Yahudi (Halakhah): Spiritualitas atau Kekuasaan?

Halakhah, hukum agama Yahudi, mencakup hampir seluruh aspek kehidupan makanan (kashrut), hubungan seksual, hukum pidana, ekonomi, hingga struktur sosial. Ia lebih dari sekadar ritual, melainkan tatanan hidup total. Dalam konteks inilah, Yahudi bisa disebut sebagai sistem “nomokrasi teologis”—sebuah peradaban hukum yang sakral.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB