opini

Noda Hitam Kekhalifahan: Membedah Kebobrokan Turki Utsmani hingga Runtuhnya Khilafah

Kamis, 15 Mei 2025 | 06:41 WIB
Sejarah Orhan Ghazi pemimpin Turki Usmani yang dicintai oleh kaum Nasrani (Akşam)

Oleh: MJ. Wijaya

Banyak kalangan romantik Islam memuja Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman) sebagai simbol kejayaan Islam yang telah hilang. Mereka menyerukan tegaknya kembali institusi khilafah, seolah sejarah Utsmani merupakan narasi suci tanpa cela. Padahal, menutup-nutupi luka sejarah adalah kebohongan intelektual bahkan lebih berbahaya daripada serangan musuh dari luar.

Turki Utsmani berdiri sejak 1299 dan bertahan lebih dari enam abad. Namun sejak abad ke-17, kekuasaannya mulai keropos akibat penyakit internal: korupsi, dekadensi moral, nepotisme, dan kekerasan politik yang dilembagakan.

Kekuasaan Berdarah: Ketika Khilafah Membunuh Pewarisnya

Salah satu sisi tergelap dari sejarah Utsmani adalah sistem kafes dan praktik fratricide pembunuhan saudara laki-laki untuk mengamankan tahta. Pada 1595, Sultan Mehmed III membantai 19 saudaranya dalam satu malam. Sultan Ibrahim I bahkan dikenal karena tindakan brutal, termasuk menenggelamkan 280 selirnya karena dilanda paranoia.

Bernard Lewis dalam The Emergence of Modern Turkey menyatakan:

“The Ottoman system of fratricide institutionalized political murder under religious pretext, betraying both Islam and humanity.”

Korupsi dan Harem: Ketika Kekuasaan Dikuasai Intrik Istana

Masa kejayaan Sultan Suleiman Al-Qanuni ditopang oleh birokrasi meritokratik. Namun seiring waktu, istana berubah menjadi sarang korupsi dan intrik harem. Keputusan-keputusan strategis justru banyak dipengaruhi oleh selir dan ibu suri, bukan demi kemaslahatan rakyat. Donald Quataert menyebut kondisi ini sebagai palace politics over statecraft.

Represi atas Nama Agama

Klaim melindungi kaum minoritas tak sejalan dengan kenyataan. Kekhalifahan kerap melakukan represi sistemik terhadap kelompok non-Muslim. Puncaknya terjadi dalam Genosida Armenia 1915–1917, ketika lebih dari 1,5 juta jiwa dibantai. Martin van Bruinessen mencatat:

“The Ottomans used Islam not as a source of ethics, but as a tool of state terror and imperial expansion.”

Ketika Intelektualisme Mati

Alih-alih menjadi suara moral, para ulama justru menjadi corong kekuasaan. Ijtihad dibekukan, dan mazhab resmi seperti Hanafi dijadikan alat legitimasi tirani. Akibatnya, pemikiran Islam stagnan hingga muncul gerakan modernis abad ke-19.

Halaman:

Tags

Terkini

Kepemimpinan yang Dibutuhkan NU

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:12 WIB

Merdeka dari Kemiskinan

Senin, 17 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB