Pada akhirnya, seperti filosofi Sunda yang dikutip, "saeutik kudu mahi, loba kudu aya sesa" (sedikit harus cukup, banyak harus ada sisa), integritas dan hati nurani para wakil rakyat menjadi kunci.
Rakyat menanti pembuktian bahwa POKIR benar-benar berpihak pada kepentingan mereka, bukan sekadar menjadi alat transaksi terselubung.