Oleh: Agung Wibawanto
Jika ada yang bertanya, terutama mungkin orang asing, bagaimana dengan Indonesia? Jika tanpa konteks, tentu kita masih bingung apa yang dimaksud? Indonesia itu dalam pengertiannya tidaklah tunggal. Ia bisa terkait pemerintahan (sistem politik keseluruhan), bisa masyarakatnya, atau juga Indonesia sebagai sebuah geografis yang di dalamnya ada alam lingkungan, iklim dll.
Saya adalah salah satu dari banyak mereka yang juga sering mengamati bagaimana orang (asing) mengomentari atau reaction tentang Indonesia terutama dari Chanel YouTube. Pada kebanyakan mereka menilai Indonesia sebagai sebuah negara yang bernilai positif bahkan dikagumi. Tiga alasan kekaguman orang asing pada Indonesia adalah: makanan (kuliner) enak, alam yang indah, dan masyarakat yang ramah.
Jujur saya dibuat kagum sendiri atas tradisi budaya masyarakat kita memperlakukan warga asing. Banyak dari konten YouTube yang menceritakan bagaimana pengalaman mereka pertama kali datang ke Indonesia. Mereka mengaku mengalami culture shock, alias kaget dengan penerimaan warga Indonesia atas kehadiran mereka. Mereka juga menjadi saksi langsung merasakan kebaikan orang Indonesia.
Mereka kaget bagaimana orang Indonesia pada kebanyakan selalu tersenyum dan menyapa ramah setiap bertemu. Di sebagian negara lain, setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak perduli dengan kehadiran orang. Terlebih jika ada orang asing, orang akan menghindar dan mudah curiga. Bahkan di Rusia disebutkan dilarang tersenyum kepada warga asing yang belum mereka kenal.
Nah, budaya seperti itu justru menjadi aneh bagi telinga dan pikiran kita. Apa sulitnya tersenyum dan menyapa orang lain? Bukankah itu adalah sebuah ibadah dan amalan yang sangat murah dan mudah? Inilah memang yang membedakan orang dari bangsa lain dengan orang Indonesia. Orang Indonesia juga dikenal baik hati selalu mau membatu bagi orang asing yang tengah mengalami kesulitan.
Sebuah konten warga asing mengatakan, kebaikan orang Indonesia itu tulus tidak mengharapkan apapun. Beda dengan orang Thailand atau Vietnam yang biasanya kemudian mengincar uang mereka, misal dengan menawarkan diri sebagai guide (pemandu) ataupun taxi mereka. Banyak Chanel yang menunjukkan konten kebaikan orang Indonesia dengan mengajak orang asing makan di rumah mereka bahkan tinggal sementara di sana.
Orang Indonesia itu tidak mengharapkan uang sama sekali dari warga asing, bahkan mereka menolak ketika tamu asing tersebut menyodorkan sejumlah uang. Ada pula orang asing yang mengaku ditraktir kopi ataupun jajanan jalanan oleh warga setempat. "How kind they are..." ucap orang asing tersebut. Ini baru soal keramahan orang Indonesia. Bule asing juga banyak yang datang ke Indonesia hanya untuk cicipi makanan Indonesia.
Kuliner kita dikenal memiliki taste yang kuat karena banyak bumbu rempah yang digunakan. Makanan seperti rendang, ayam bakar, sate, mie ayam, soto, menjadi makanan favorit pilihan mereka. Ada pula makanan ringan (jajanan) seperti: martabak, somay, pempek, dll. Selain enak, mereka mengatakan harganya juga cukup murah. Dibanding harga makanan di negara mereka. Terlebih mengingat kurs dolar yang tinggi dibanding rupiah sekarang ini.
Bagaimana dengan alam sebagai destinasi wisata Indonesia. Jangan ragukan lagi. Indonesia memiliki banyak lokasi dengan pemandangan alam yang indah. Jangankan dengan destinasi wisata yang sudah terkenal seperti Gunung Bromo, Raja Ampat, Bunaken, Danau Toba dll, bahkan hanya melihat lingkungan alam di kampung (desa) seperti persawahan, hutan kecil lengkap dengan hewan peliharaan saja mereka sudah merasa amazing sekali dan sangat betah.
Saya kemudian berpikir, apakah warga asing itu paham akan kondisi Indonesia saat ini? Ya, Indonesia tidak hanya keindahan alam, kuliner dan ramahnya orang-orang, tapi juga ada yang disebut dengan negara. Negara lah yang mengeluarkan banyak kebijakan terkait kehidupan masyarakatnya. Negara yang dipimpin oleh seorang presiden dan wakil presiden dibantu menteri kabinet. Merekalah yang mengelola kekayaan bangsa ini.
Warga asing tidak mengenal siapa pemimpin negara ini, dan juga mungkin tidak mau tahu. Bagi mereka, tidak ada hubungan langsung antara negara dengan rakyatnya. Yang mereka butuhkan dan mereka kagumi itu rakyat dan keindahan alam Indonesia, bukan pemerintah. Mungkin mereka tidak terlalu masalah mau pemerintah itu baik atau buruk, rakyat Indonesia tetaplah ramah dan baik, "Karena mungkin ini sudah jadi tradisi ya," ujar mereka.
Benar, budaya keramahan dan selalu berbuat baik kepada siapapun (saling membatu) adalah sebuah nilai yang sudah tumbuh, berkembang dan ditanamkan oleh para leluhur bangsa ini. Jadi, bagaimanpun rezim yang memimpin bangsa ini, rakyat tetap tumbuh secara wise dengan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. Termasuk alam Indonesia yang indah tidak luput merupakan legacy dari pendahulu yang telah menjaga dan merawatnya hingga masih indah hingga kini.
Seharusnya pemerintah bangga dengan rakyatnya sendiri yang sudah membawa harum nama bangsa hingga ke se antero dunia, melalui pengakuan warga asing yang datang ke Indonesia. Jika rezim belum bisa berlaku baik (mengelola negara secara amburadul), setidaknya jangan pula menyakiti hati rakyat dengan sebutan-sebutan yang buruk, seperti "ndasmu", "pea" dan "kampungan". Perilaku elite Indonesia buruk namun rakyatnya ramah dan baik, ironi.