opini

Cahaya di Penghujung Ramadan

Jumat, 28 Maret 2025 | 06:10 WIB
Mohamad Sinal


Oleh Mohamad Sinal

Ramadan adalah cahaya yang menyinari lorong-lorong kehidupan. Ia membimbing jiwa selama ini tersesat dalam gelapnya kesibukan. Di bulan ini, manusia diajak untuk mengenali dirinya kembali.

Ramadan adalah bulan yang selalu datang dan pergi. Seperti kafilah dari kejauhan, membawa lentera yang menerangi hati. Ia hadir sebagai panggilan bagi mereka yang ingin menyelami makna ketulusan, kesabaran, dan pengorbanan.

Seiring berjalannya waktu, lembaran Ramadan kian menipis. Kita pun akan sampai di penghujungnya. Sebuah perhentian yang mengundang perenungan lebih dalam.

Adakah cahaya yang telah kita serap di sepanjang perjalanan ini? Ataukah kita hanya menjadi pengembara yang melewatinya tanpa sempat menangkap sinarnya?

Ramadan sebagai Cahaya Spiritual

Ramadan adalah latihan menaklukkan diri serta menyelami hakikat dirinya sendiri. Melawan hasrat yang sering kali membutakan. Membangun kesadaran bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada pemenuhan keinginan, melainkan dalam pengendalian diri.

Dalam sebulan penuh, cahaya Ramadan menerangi jiwa yang sedang tertidur. Waktu sahur, derai zikir menjelang berbuka, dan lantunan ayat suci, adalah lentera yang menerangi hati. Semuanya mengajak manusia kembali pada fitrah.

Ramadan mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk menjadi lebih baik. Ketakwaan bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Kuncinya adalah kemauan untuk terus melangkah menuju cahaya-Nya.

Seiring berlalunya hari-hari Ramadan, tersisa satu pertanyaan penting: bagaimana kita menyikapi perpisahan ini? Apakah Ramadan hanya menjadi ritual tahunan yang sekadar dilewati? Ataukah ia meninggalkan bekas yang mendalam dalam diri kita.

Penghujung Ramadan adalah cahaya bagi jiwa-jiwa yang berpuasa. Setelah sebulan penuh berpuasa, tibalah saatnya untuk membuktikan bahwa cahayanya tetap hidup di dalam dada. Jadi, ujian terbesar bukanlah pada saat kita berpuasa, melainkan setelahnya.

Ketika gema takbir mulai berkumandang dan lembaran bulan suci telah ditutup, kita kembali pada kehidupan semula. Akankah kita tetap menjaga kebiasaan-kebiasaan baik yang telah dibangun? Ataukah kita akan kembali tenggelam dalam rutinitas duniawi yang kering dari nilai-nilai keimanan?


Ramadan, Perpisahan yang Bukan Akhir

Penghujung Ramadan mengajarkan bahwa ketakwaan sejati bukan hanya diukur dari ibadah selama bulan suci. Namun, bagaimana ia mempertahankan kemurnian jiwanya setelah Ramadan pergi. Dengan demikian, perpisahan dengan Ramadan adalah perpisahan yang mengandung harapan.

Ia bukan akhir dari perjalanan, tetapi awal untuk menggapai suatu tujuan. Seperti seorang musafir yang telah mendapatkan petunjuk arah. Kini, ia harus melanjutkan perjalanannya dengan cahaya yang telah diperolehnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB