Oleh Mohamad Sinal
Ramadan adalah bulan yang penuh harap dan doa. Di dalamnya, ada rintihan lirih para hamba yang memohon ampunan dan desahan doa yang menggetarkan arasy. Ada pula air mata yang mengalir, mengantarkan harapan kepada langit.
Air mata di bulan suci ini bukan sekadar cerminan emosi, tetapi tanda ketulusan dan kehambaan. Para ulama terdahulu memahami betul makna doa dan tangisan di bulan Ramadan. Oleh karena itu, mereka menjadikannya momentum untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
Selain itu, air mata yang jatuh dalam doa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati seorang hamba masih hidup. Rasulullah bersabda, "Dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah." (HR. Tirmidzi).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa tangisan seorang hamba yang mengingat Allah memiliki nilai yang tinggi di sisi-Nya. Imam Hasan Al-Bashri sering menangis saat berdoa. Ia pernah berkata, "Aku takut kelak di akhirat Allah akan berfirman kepadaku: 'Hai Hasan, mengapa kau berbuat dosa?' Maka bagaimana mungkin aku tidak menangis?"
Jadi, baginya air mata yang tumpah dalam doa adalah wujud ketakutan akan dosa dan harapan akan rahmat dan ampunan Allah. Ramadan adalah bulan yang dijanjikan penuh berkah dan pengampunan. Rasulullah bersabda, "Tiga doa yang tidak akan tertolak: doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Tirmidzi).
Hal tersebut menunjukkan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk menuangkan segala harapan dan penyesalan dalam doa. Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama besar, dikenal sebagai orang yang sangat menjaga malam-malam Ramadan dengan doa dan tangisan. Diriwayatkan bahwa ia sering menangis saat berdoa hingga janggutnya basah oleh air mata.
Ketika ditanya mengapa ia begitu banyak menangis, ia menjawab, "Aku takut amalanku tidak diterima oleh Allah." Kesadaran akan ketidaksempurnaan diri inilah yang membuatnya begitu tekun dalam berdoa. Selain itu, yang membuat ia selalu menangis di hadapan Allah.
Banyak kisah dari para ulama yang menunjukkan betapa khusyuknya mereka dalam berdoa, terutama di bulan Ramadan. Imam Abu Hanifah, pendiri Mazhab Hanafi, dikenal sering menangis dalam salat malamnya.
Suatu ketika, beliau membaca surat Az-Zalzalah dalam salatnya. Ketika sampai pada ayat "Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8), ia menangis tersedu-sedu hingga tidak bisa melanjutkan salatnya.
Begitu juga dengan Imam Ahmad bin Hanbal, yang dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah dan berdoa. Ia pernah ditanya mengapa ia begitu banyak menangis dalam doa, lalu ia menjawab, "Jika kau tahu betapa banyaknya dosa yang telah aku lakukan, kau pun akan menangis sepertiku." Hal ini menunjukkan betapa ulama terdahulu memiliki hati yang lembut, penuh ketakutan akan azab Allah, tetapi juga penuh harapan akan rahmat-Nya.
Kisah-kisah para ulama terdahulu menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih banyak berdoa dan menangis dalam Ramadan. Air mata yang jatuh bukanlah sekadar emosi. Air mat aitu adalah cerminan hati yang sadar akan kebesaran Allah dan kelemahan diri.
Beberapa cara untuk memaksimalkan doa di bulan Ramadan adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu mustajab seperti sebelum berbuka dan sepertiga malam terakhir. Adapun mengiringi doa dengan tangisan sebagai bentuk ketulusan hati. Memohon dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti mengabulkan setiap doa yang tulus.
Ramadan bukan hanya bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bulan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Air mata yang jatuh dalam doa adalah tanda kelembutan hati, kesadaran akan dosa, dan harapan akan ampunan.
Para ulama telah mencontohkan betapa besarnya pengaruh doa terhadap batin kita. Betapa besarnya pengaruh tangisan dalam meningkatkan ketakwaan. Oleh sebab itu, jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa ada doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh.