opini

Mengenang Wafatnya Mbak Rara, Hafizah Di Luar Pesantren Tahfiz

Sabtu, 22 Maret 2025 | 14:00 WIB

Oleh: Maruf Khozin

Kalau ada santri menghafal Al-Qur'an di Pondok Tahfiz saya tidak heran. Sudah lumrah. Mbak Rara (berkacamata) hidup di tengah masyarakat kampung dan menjalani sekolah umum. Tapi mampu hafal Al-Qur'an 30 juz. Kok bisa?

Pertama, di kampung yang bernama Sawotratap Kec. Waru, Sidoarjo, ada lembaga pendidikan Al-Qur'an bernama Baitul Muttaqin. Di sana banyak warga terbentuk untuk menghafal Al-Qur'an, baik bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak.

Lembaga ini digerakkan oleh H Fathur Rozi (sebelah saya, ayahnya Mbak Rara) dan gotong royong bersama para pecinta Tahfiz.

Kedua, lingkungan keluarga yang kompak menghafal Al-Qur'an. Baik ayahnya atau ibunya sama-sama menghafal Al-Qur'an. Dukungan keluarga untuk menciptakan iklim menghafal Al-Qur'an sangat kuat.

Saat Mbak Rara masuk jenjang SMA yang cukup jauh sekolahnya dan waktu banyak tersita di jalan, Abah Fathur menawarkan ke anaknya untuk Home Schooling saja agar fokus pada hafalan Al-Qur'an. Mbak Rara menuruti keinginan keluarganya.

Ketiga komunitas masyarakat. Saya pernah tinggal di kampung itu selama 2 tahun. Setiap Ahad beberapa remaja mengadakan Darling (Darusan Keliling), dari rumah ke rumah.

Anak saya yang ketiga pernah ikut kegiatan ini sebelum melanjutkan ke pesantren. Setiap tahun juga diadakan Haflah dan diberi penghargaan bagi santri-santri yang sudah mencapai beberapa Juz. Maha benar Allah dalam firman-Nya

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang bersungguh sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al Ankabut 69)

Selesai Khatam Qur'an 30 juz beliau kuliah di STAI Al Akbar Surabaya. Di kampusnya ia menggerakkan banyak aktivitas kampus, membuat konten, mengenalkan kampus dan sebagainya.

Pada 16 Ramadan lalu, saat persiapan webinar di Al-Akbar, kondisi sehat dan dalam keadaan berpuasa, ia dipanggil oleh Allah sore hari dalam keadaan duduk bersandar dan kedua tangan bersedekap. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Semoga Allah memberi Rahmat untuknya dengan Qur'annya. Amin.

• Foto bersama saya, ayahandanya dan teman kuliahnya di kantor PWNU Jatim saat tugas wawancara tentang organisasi Islam Nahdlatul Ulama.

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB