Oleh: Maruf Khozin
Kalau ada santri menghafal Al-Qur'an di Pondok Tahfiz saya tidak heran. Sudah lumrah. Mbak Rara (berkacamata) hidup di tengah masyarakat kampung dan menjalani sekolah umum. Tapi mampu hafal Al-Qur'an 30 juz. Kok bisa?
Pertama, di kampung yang bernama Sawotratap Kec. Waru, Sidoarjo, ada lembaga pendidikan Al-Qur'an bernama Baitul Muttaqin. Di sana banyak warga terbentuk untuk menghafal Al-Qur'an, baik bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak.
Lembaga ini digerakkan oleh H Fathur Rozi (sebelah saya, ayahnya Mbak Rara) dan gotong royong bersama para pecinta Tahfiz.
Kedua, lingkungan keluarga yang kompak menghafal Al-Qur'an. Baik ayahnya atau ibunya sama-sama menghafal Al-Qur'an. Dukungan keluarga untuk menciptakan iklim menghafal Al-Qur'an sangat kuat.
Saat Mbak Rara masuk jenjang SMA yang cukup jauh sekolahnya dan waktu banyak tersita di jalan, Abah Fathur menawarkan ke anaknya untuk Home Schooling saja agar fokus pada hafalan Al-Qur'an. Mbak Rara menuruti keinginan keluarganya.
Ketiga komunitas masyarakat. Saya pernah tinggal di kampung itu selama 2 tahun. Setiap Ahad beberapa remaja mengadakan Darling (Darusan Keliling), dari rumah ke rumah.
Anak saya yang ketiga pernah ikut kegiatan ini sebelum melanjutkan ke pesantren. Setiap tahun juga diadakan Haflah dan diberi penghargaan bagi santri-santri yang sudah mencapai beberapa Juz. Maha benar Allah dalam firman-Nya
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Dan orang-orang yang bersungguh sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al Ankabut 69)
Selesai Khatam Qur'an 30 juz beliau kuliah di STAI Al Akbar Surabaya. Di kampusnya ia menggerakkan banyak aktivitas kampus, membuat konten, mengenalkan kampus dan sebagainya.
Pada 16 Ramadan lalu, saat persiapan webinar di Al-Akbar, kondisi sehat dan dalam keadaan berpuasa, ia dipanggil oleh Allah sore hari dalam keadaan duduk bersandar dan kedua tangan bersedekap. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Semoga Allah memberi Rahmat untuknya dengan Qur'annya. Amin.
• Foto bersama saya, ayahandanya dan teman kuliahnya di kantor PWNU Jatim saat tugas wawancara tentang organisasi Islam Nahdlatul Ulama.