Sufi besar lainnya, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, menekankan bahwa kebersihan hati berasal dari keyakinan penuh kepada Tuhan. Ia berkata, "Ketika hatimu benar-benar bersandar kepada-Nya, kau tidak akan lagi risau dengan dunia." Keikhlasan dalam menerima kehidupan, dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur adalah kunci untuk menjaga hati tetap jernih.
Sebab, hati yang selalu resah adalah hati yang terbelenggu oleh dunia. Sementara hati yang tenang adalah hati yang telah menemukan kedamaian dalam cinta kepada-Nya. Dalam naungan rido dan kasih saying-Nya.
Selaras dengan pernyataan di atas, Hasan Al-Bashri, berkata, "Ketika seseorang tulus dalam perkataannya, maka hatinya akan menjadi jernih seperti air yang mengalir." Ketulusan bukan hanya dalam berkata, tetapi juga dalam berbuat dan berniat.
Terkadang, manusia melakukan kebaikan demi mendapat pujian, bukan karena benar-benar ingin membantu. Sedangkan hati yang tulus, melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan. Ia seperti embun yang memberi kesejukan tanpa memilih di mana ia akan jatuh.
Oleh sebab itu, marilah kita bertanya pada diri sendiri. Sudahkah kita seperti embun yang tenang meski tahu akan menghilang ketika mentari datang? Sudahkah kita melepaskan keinginan yang berlebihan dan menerima hidup dengan penuh syukur? Jika belum, mungkin sudah saatnya kita mulai membersihkan hati. Sehingga kelak, bisa menjadi cermin bagi cahaya Tuhan, seperti embun yang memantulkan sinar matahari di pagi hari.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.