opini

Obsesi Kekuasaan: Ketika Rakyat Kritik Dijawab Makian "Ndasmu!" (1)

Senin, 17 Februari 2025 | 20:24 WIB


Oleh: Agung Wibawanto

Obsesi adalah kecenderungan memikirkan atau memfokuskan perhatian secara berlebih pada suatu hal atau pikiran yang terus-menerus, sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari dan berpotensi mengganggu kesehatan mental. Kebanyakan orang tahu bahwa obsesinya berlebihan, tapi mereka merasa tidak mampu untuk mengendalikannya.

Mereka yang terobsesi kekuasaan sering kali haus akan pengakuan dan validasi dari orang lain. Mereka ingin selalu diakui sebagai orang yang paling berpengaruh, kuat, atau penting di lingkungan sekitar. Mereka akan terganggu jika tidak mendapatkan pujian atau penghargaan. Hal ini mendorong mereka terus-menerus mencari kesempatan menonjolkan diri.

Rakyat kini menilai, cukup sudah. Indonesia sudah semakin terlihat akan dibawa kemana oleh pemimpin negeri yang terobsesi kekuasaan. Nahkoda kapal besar yang awalnya diharapkan bisa bersikap lebih tegas berpihak kepada rakyat, nyatanya tidak. Ia lebih memilih berternak para pemujanya karena ia memiliki obsesi sebagai Pemimpin Besar.

Ia juga lebih memberi tempat kepada nahkoda terdahulu yang memungkinkannya bisa duduk di kursi kekuasaan saat ini. Tanpa tedeng aling-aling dan tanpa malu sedikit pun ia memimpin teriakan memuji Jokowi yang sudah dianggap gagal oleh rakyat dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan malah merusak tatanan bernegara.

Prabowo kini benar-benar larut dalam obsesi kekuasaan yang memang sudah dikehendaki lama. Ia berguru atau tepatnya ingin mencontoh kepada tiga pemimpin terdahulu, yakni: Bung Karno, Suharto dan Jokowi. Ia pengagum Bung Karno terutama bagaimana Bung Karno selalu mampu menggelorakan semangat rakyat melalui orasi yang berapi-api.

Tidak hanya gaya berpidato, beberapa ide besar ia kutip dari Bung Karno yang selalu bersentral kepada rakyat. Seolah Prabowo rela mati demi rakyat dan siap mengabdi kepada rakyat. Namun nyatanya tidak, dan sangat berbeda dengan Bung Karno. Prabowo hanya menjadi seorang pemimpi sosok Bung Karno saja, tidak lebih. Ia tidak akan mampu.

Prabowo juga terlihat meniru (copy cat) dari mantan mertuanya, Suharto, bagaimana memperkuat pertahanan dirinya dalam melanggengkan kekuasaan. Ia gerakkan militer menjadi pengawalnya dengan mengerahkan anggota TNI ke pelosok daerah (menggunakan topeng membantu program ketahanan pangan dan MBG). Ia juga menggalang dukungan kepada partai pendukung.

Ia bangun koalisi besar (KIM) menjadi koalisi permanen (hanya menyisakan PDIP seorang diri sebagai partai oposisi). Bahkan agenda 2029 yang masih 4 tahun lagi sudah dirancang sejak dini. Sebelum itu pula, ia sibuk mengerahkan partai koalisinya untuk memenangkan Pilkada serentak 2024. Mengapa, agar seluruh kepala daerah bisa tunduk patuh kepadanya.

Doktrin untuk kepala daerah tersebut juga ditunjukkan dalam kegiatan retreat di markas Akmil di Magelang selama 7 hari. Kepala daerah yang seharusnya wilayah sipil akan diberi pelatihan dasar kemiliteran. Tujuannya satu: patuh dalam sistem komando (kegilaan akan dunia militer juga diperlihatkan dengan mengangkat anggota TNI aktif menjabat jabatan sipil Bulog).

Terakhir, ia belajar "politik" kepada Jokowi. Bagaimana cara melakukan sandiwara yang seolah bicara untuk rakyat namun yang terjadi sebaliknya. Yang penting terus menyuarakan untuk rakyat dan demi rakyat. Nyatakan juga hal-hal yang disukai rakyat, misal: Saya ingin jadi presiden yang bisa menurunkan BBM, menurunkan harga sembako, menangkap koruptor, dst.

Pokoknya bikin rakyat senang melalui kata-kata (membangun asa), bukan dengan tindakan. Hal lain yang ditiru dari Jokowi adalah bagaimana cara bisa melanggar UU bahkan konstitusi tapi tidak terlalu vulgar (masih dalam batas demi kepentingan rakyat). Seluruh tatanan kenegaraan tidak terlalu terlihat namun jelas dirasakan mengarah kepada satu tangan presiden.

Oligarki masih perlu dijaga dan diberi penghormatan setinggi-tingginya serta dijadikan sebagai "first class citizen" salah satu keistimewaannya menjadi kebal hukum. Namun tetap Prabowo ingin agar oligarki tunduk kepada kehendaknya jika ingin mendapat fasilitas VVIP. Itu konsep obsesi kekuasaan Prabowo, menguasai seluruh elemen kekuatan.

Namun ia lupa dan atau bakal mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan mantan mertuanya. Ada satu elemen 'kekuatan' lain yang mungkin dianggapnya lemah, namun elemen tersebut justru berhasil menjatuhkan mantan mertuanya di saat ia tengah berkuasa kuat saat itu. Elemen itu adalah rakyat dan civil society.

(Bersambung...)

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB