Selain itu, penyair juga menggambarkan bahwa teladan atau arah yang benar dalam hidup berasal dari jejak para pahlawan sejati yang mengabdi pada keadilan dan kerja keras: "Ternyata kiblat adalah jejak pahlawan". Pejuang yang sebenarnya tetapi seringkali dilupakan, yakni para pekerja keras, petani, atau buruh yang jarang diakui jasa dan perjuangannya: "Jejak seorang pejuang yang dilupakan /Atau jejak para pencangkul bumi penanam benih / Yang sudah jadi pahlawan sebelum mati". Jadi, para pekerja keras, seperti petani yang menanam benih kehidupan, sudah menjadi pahlawan meskipun mereka tidak pernah mendapat penghargaan atau pengakuan. Mereka berjasa pada kehidupan sebelum kematian mereka.
Secara totalitas, puisi tersebut bukan sekadar menggambarkan kegelisahan hati sang penyair, tetapi juga pengingat bahwa kata dapat menjadi senjata paling tajam dalam menantang ketidakadilan. Melalui puisinya, ia mengajarkan bahwa keindahan kata dapat menjadi suara yang membebaskan, menjadi cahaya bagi mereka yang tersisih, dan menjadi suara bagi yang dibungkam. Dengan demikian, selama hati nurani masih ada, perlawanan terhadap ketidakadilan tak akan pernah padam. Selain itu, penyair mengajak pembaca untuk menghargai pahlawan sejati, yaitu mereka yang bekerja keras tanpa pamrih dan berjasa bagi kehidupan sejak sebelum mereka meninggal.
• Penulis adalah dosen Polinema, Pendiri dan Pembina *Pena Hukum Nusantara (PHN)*, Forum dan Wadah Silaturahmi Mahasiswa Fakultas Hukum se-Indonesia.