Konsep tawasuth dalam Aswaja sendiri sebenarnya dapat di implementasikan di segala aspek kehidupan, diantaranya yakni bidang aqidah, akhlak, pergaulan, bahkan dalam bidang kebudayaan.
*Tawazun (seimbang)*
Tawazun yaitu sifat untuk menyeimbangkan diri dalam segala hal. Termasuk dalam sifat tawazun yakni keseimbangan dalam penggunaan dalil dan naqli.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Hadid ayat 25, yang artinya,
_“Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”_
Para kader PMII diberi pemahaman bahwa sebagai seorang mahasiswa haruslah memiliki sikap tawazun. Menyeimbangkan hubungan vertikal (hubungan kepada Tuhan) dan horizontal (kepada sesama manusia), dan kepada segala yang ada disekitarnya.
*Ta’adul (berpihak pada kebenaran)*
salah satu bentuk realisasi sikap ta’adul yang diberdayakan diantara para kader adalah dengan memahami harkat dan martabat setiap individu terlepas dari latar belakang dan perlakuan mereka.
Selain itu, dianjurkan pula untuk tidak berpihak kepada salah satu pihak saja saat berdiskusi akan tetapi mampu bersikap lebih netral. Sebab, dalam kehidupan berorganisasi, ada banyak problematika yang dihadapi baik besar ataupun kecil.
Dengan problem itulah para kader dapat melatih kemampuan diri dalam berperilaku adil tanpa membela tangan kiri maupun tangan kanan saja.