opini

Geger Tjiandjoer 1885

Sabtu, 5 Oktober 2024 | 02:00 WIB
Pendopo Cianjur pada masa kolonial Belanda. ( Instagram @cianjurjadul)

Naqysbandiyah Khalidiyah di Cianjur. Pada masa R.H Muhammad Rozie inilah, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah berkembang cukup pesat. Ia meneruskan apa yang telah dilakukan oleh R.H Muhammad Isa al-Khalidi, yaitu dengan merenovasi madrasah tempat kegiatan blajar mengajar, dan kegiatanTarekat Naqsyabandiyah Khaldiyah pada tahun 1950 M.103Setelah Muhammad Rozie meninggal pada tahun 1966, kemudian memberiwasiat untuk melanjutkan kepemimpinan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur kepada tiga orang, yaitu R.H. Abdullah, R.H. Affandi, dan R.H. Djaja.

Selanjutnya, setelah di wakilkan kepada tiga orang, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur di teruskan oleh R.H. Abbas Sahabuddin.

Pada tahun 1967,R.H. Abbas mendirikan sebuah yayasan, yaitu Yayasan Pendidikan Islam (YPI)Gedong Asem.Sehingga setiap kegiatan belajar mengajar, yang awal mulanyadirintis oleh R.H. Muhammad Isa al-Khalidi, pada masa R.H.Abbas berada dalam ruang lingkup dan tanggung jawab yayasan tersebut.

Pada tahun 1979 didirikan juga Madrasah SKPI, kemudian berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs). Keberadaan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), berada dalam tanggung jawab Yayasan Pendidikan Islam(YPI)Gedong Asem. Kemudian Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Gedong Asem, berganti nama menjadi Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Riyyadhul Muttaqien Gedong Asem, dengan akta No. 25 tanggal 24, September 1985.

Pada masa R.H Abbas inilah perkembangan Tarekat NaqsyabandiyahKhalidiyah, tidak hanya terpusat pada keagamaan saja, tetapi ikut memberikansumbangsing bagi perkembangan pendidikan di Cianjur, dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Gedong Asem.

Setelah R.H Abbas, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur diteruskan oleh enam perwakilan, yaitu R.H Ma'sum, H. Kamaludin, R.H Jaliludin, R. Hadi Sirojudin, H. Habib Umar,dan H.Abd Fatah. Enam perwakilan yang memimpin tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur, masih bertahan sampai dengan sekarang, dan masih aktif dalam kegiatan tarekat tersebut.

Tidak hanya itu, keberadaan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Riyyadhul Muttaqien Gedong Asem, sampai dengan saat ini masih tetap ada. Sedangkan untuk tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur, untuk saat initelah memiliki 16 cabang di Cianjur, dan masih aktif melakukan kegiatan tarekat.

Akhirul kalam..
Pada masa kolonial dulu, tarekat pun tampil sebagai sebuah gerakan perlawanan untuk memerangi penjajah.

Sejarah mencatat, ada sejumlah gerakan perlawanan besar yang dilakukan para tokoh tarekat dan pengikutnya di nusantara terhadap Belanda. Menurut Prof Azyumardi Azra dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, respons Muslim pribumi terhadap penjajah Belanda.

Selain itu, sejarah juga mencatat banyak lagi gerakan pemberontakan melawan penjajah Belanda yang dimotori tarekat, seperti pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa’i (Ripangi) dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917), dan Peristiwa Garut (1919).

Semoga catatan singkat yg di ambil dari berbagai sumber ini memberi pengetahuan sejarah khususnya tentang beberapa perkembangan yang terjadi tentang Tariqoh di Tjandjoer...wallahu alam bish shawab...

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB