opini

Ketulusan Hati Masih Adakah Kini ?

Rabu, 14 Agustus 2024 | 19:19 WIB
Gambar : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag, Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

Oleh : Dr. H. Dudy Imanuddin Efendi, M.Ag

Penulis adalah Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

 

JournalNusantara.com/ Opini - Konon buah dari ketulusan hati dapat membimbing seseorang untuk memiliki kemampuan belajar yang hebat agar bisa memaknai sebuah keikhlasan dalam kehidupan. Hatta, saat ketulusan dari setiap kepedulian terhadap orang lain tidak pernah dihargai, ia akan tetap bersyukur karena hakikatnya sedang belajar tentang ketulusan hati.

Seseorang yang ketulusannya mampu melampaui jebakan penghormatan, pujian atau penghargaan dari sesama manusia maka ia telah memenangkan hawa nafsunya. Ada ataupun tiada penghargaan, ia akan selalu belajar melakukan ketulusan.

Tulus sejak dalam pikirannya, murni dalam perasaannya, dan ikhlas dalam amalnya. Tipe manusia seperti ini tidak akan mudah putus asa dari melakukan pelbagai kebaikan dan manfaat dalam kehidupan walaupun tidak berbalas penghargaan.

Tidak mudah membenci dan kecewa kepada orang lain karena merasa tidak dihargai. Ketulusan adalah rendah hati dan ketegaran jiwa, tapi bukan merendahkan diri atau merusak jiwa hanya karena mengejar atau bahkan mengemis penghargaan atau penghormatan dari orang lain.

Baca Juga: Prodi BKI FDK UIN Bandung Laksanakan Pengabdian di Desa Cibeureum Kertasari Kab. Bandung

Konon ketulusan merupakan ibu dari kebenaran. Ketika ketulusan dipertanyakan, di saat itulah kesungguhan harus dibuktikan, bukan dengan ucapan melainkan oleh tindakan. Oleh karena itu, belajarlah tidak bersedih jika ketulusan dibalas dusta atau kepura-puraan. Justru ketika ketulusan dibalas sebaliknya, ia masih bisa bersabar dan bahkan masih bisa tersenyum maka bersyukurlah. Sebab itu menandakan bahwa ketulusan masih bersemanyam dalam hati.

Sebagian orang cerdik mengatakan bahwa ketegaran berawal dari kesabaran. Kesabaran berawal dari penerimaan. Penerimaan berawal dari ketulusan. Maka tidak ada cerita tentang ketulusan ketika seseorang melakukan kebaikan selalu ingin dihargai dalam bentuk-bentuk tertentu yang bersifat aksesoris duniawi. Ketika tidak diberi penghargaan karena alasan tertentu, ia berubah dratis menjadi pribadi yang penuh kekecewaan, penuh kemarahan bahkan penuh kebencian.

Bahagia itu sederhana. Hanya butuh ketulusan dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu banyak orang mengatakan bahwa ketulusan adalah wajah jiwa, sementara kepura-puraan adalah topeng yang bisa merusak sendi-sendi kedamaian sosial, menghilangkan pembelaan tanpa pamrih, merecah ikatan persaudaraan dan bahkan memalingkan kesetiaan dalam persaudaraan.

Baca Juga: Partai Golkar Laksana Pohon Rindang Tumbang di Tangan Seorang Tukang Kayu, Benarkah ?

Ketulusan yang bersandar dalam jiwa akan menyempurnakan kasih sayang kepada siapapun. Menjauhkan dari segala kepura-puraan dan penipuan. Ia merupakan permata yang akan selalu bersinar dari dalam hati. Ketulusan itu sangat berat dilakukan. Akan tetapi siapapun bisa melakukannya jika ia selalu belajar keikhlasan dalam menjalani peran-peran kehidupan.

Masih adalah ketulusan itu?Bisa jadi masih ada tapi menjadi hal yang sangat langka dan sangat mahal. Konon hanya orang-orang yang selalu belajar keikhlasan yang mungkin bisa mendapatkannya dan membelinya.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB