Usia memang terkadang hanya angka. Namun umumnya, usia di atas 30 tahun sudah identik dengan penurunan dalam beberapa aspek di dalam diri pemain, semisal kondisi fisik, recovery, maupun besarnya tenaga.
Masalah berikutnya, regenerasi yang ada di bawah mereka masih jauh tertinggal. Bila berbicara soal peringkat dan pengalaman, mungkin hanya pasukan ganda putra yang punya sejumlah pelapis mendekati posisi 10 besar saat ini. Di luar itu, junior-junior di bawah pemain utama ini masih jauh dari harapan untuk bisa masuk ke persaingan level elite dunia.
Bahkan untuk sekadar bisa lolos untuk tampil di turnamen Super 1000, jumlah pemain Indonesia saat ini makin minim. Belum banyak nama baru yang bisa 'untuk sekadar' lolos masuk ke babak utama.
Karena itulah tiga tahun ke depan bakal benar-benar menentukan. Apakah pemain utama yang ada saat ini akan tetap jadi andalan atau ada bintang baru yang bisa melejit bermunculan.
Terkait hal itu, PBSI tak boleh mengambil satu jalan secara sepihak. Buka jalan seluas-luasnya dan biarkan kompetisi yang menghadirkan jawaban pemain yang layak jadi wakil Indonesia di pentas berikutnya.
PBSI harus tetap memberikan kesempatan pada pemain senior namun tak juga menutup peluang pemain-pemain junior untuk mendapatkan banyak kesempatan bertanding sehingga peringkat mereka bisa meningkat dan tampil di turnamen-turnamen level atas.
Badminton Indonesia butuh juru selamat untuk menghindari kiamat berikutnya, baik itu lewat jajaran pengurus yang tahu pasti hal-hal yang harus mereka lakukan, juga pelatih dan pemain yang bisa jadi andalan di lapangan.
Jika PBSI kembali salah jalan, maka penggemar harus bersiap bahwa kiamat kali ini akan disusul oleh kiamat berikutnya di Olimpiade mendatang.