opini

PBSI, Olimpiade, dan Gawat yang Melekat Setelah Kiamat

Sabtu, 10 Agustus 2024 | 10:00 WIB
Tim Bulutangkis Hanya Raih 1 Medali Perunggu di Olimpiade 2024, PBSI Jadi Sorotan dan Janjikan Evaluasi (PBSI)

Hal itu yang membuat Jonatan dan Ginting ada di baris depan sebagai andalan untuk meraih emas. Namun nyatanya Jonatan dan Ginting bahkan tidak bisa bertahan hingga babak akhir.

Mereka sudah terjungkal saat laga nomor tunggal putra belum memasuki fase krusial. Keduanya tak mampu jadi juara grup dan harus melupakan ambisi jadi yang terbaik di Paris 2024.

Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto bisa bertahan hingga perempat final. Namun mereka kembali mengulang hal yang sama saat bertemu Liang Weikeng/Wang Chang, yaitu kalah impresif di poin-poin kritis. Perjalanan mereka pun terhenti.

Catatan terbaik dimiliki Gregoria Mariska Tunjung. Ia bisa bertahan hingga fase akhir. Gregoria menembus babak semifinal dan kalah lewat duel sengit di tangan An Se Young. Gregoria membawa pulang perunggu dan hal itu jadi hiburan di tengah penderitaan Tim Badminton Indonesia karena tradisi emas terhenti.

Kegagalan meraih emas badminton di Olimpiade jelas jadi kegagalan PBSI. Walaupun Tim Ad Hoc berusaha melakukan sentuhan akhir yang bagus, secara keseluruhan ada kesalahan-kesalahan PBSI di bawah era Agung Firman Sampurna.

Salah satu hal yang paling mencolok adalah penanganan cedera. Penanganan cedera atlet terlihat kurang optimal. Contoh yang paling terlihat ada di kasus Apriyani Rahayu yang dalam satu tahun terakhir terlihat terus bergelut dengan cedera dan rasa tak nyaman serta khawatir setiap bertanding.

Ada pula perihal kasus mata minus dan silinder Daniel Marthin yang tidak ditanggulangi dengan cepat. Padahal penanganan cepat itu bisa saja membuat Indonesia punya dua wakil di Paris 2024.

Masalah mental juga masih belum bisa diatasi dengan baik oleh PBSI. Pemain-pemain masih terlihat tampil penuh beban di lapangan. Kecenderungan bermain dengan tekanan membuat pemain-pemain Indonesia tidak bisa bermain di level kemampuan terbaik yang seharusnya bisa mereka tampilkan.

Tim Ad Hoc pun harusnya berdiri sebelum race to Olympics dimulai. Hal tersebut bakal menunjang kinerja atlet lebih optimal dalam pengumpulan poin, yang nantinya juga berkaitan dengan status unggulan. Juga tentang pemetaan agar kondisi atlet seharusnya mencapai puncak performa di Olimpiade Paris 2024 dan bukan malah sebaliknya.

Pemain juga tentu punya kontribusi dalam kegagalan. Karena bagaimanapun, mereka yang pada akhirnya berjuang di lapangan.

2. Menunggu Juru Selamat untuk Situasi Gawat

Kabar buruk lain dari kiamat yang terjadi untuk badminton Indonesia ini adalah situasi gawat ini bisa jadi masih terus melekat.
Hal itu tak lain karena dari segi usia, Olimpiade Paris 2024 seharusnya jadi puncak penampilan generasi harapan yang sudah dirintis sejak PBSI era Gita Wirjawan.

Pada tahun 2024, Ginting berusia 28, Jonatan (27), Gregoria Mariska (25), Fajar Alfian (29), Muhammad Rian Ardianto (28), Apriyani Rahayu (26), Siti Fadia Silva (24), Rinov Rivaldy (25), Pitha Haningtyas Mentari (25).

Di usia puncak ini, baik dari segi pengalaman maupun kondisi fisik, PP PBSI malah tak mampu mengantar pemain-pemain generasi ini menorehkan prestasi ciamik di Paris 2024. Yang ada justru kekecewaan besar yang didapat.

Empat tahun kemudian, nama-nama pemain di atas banyak yang sudah melewati 30 tahun atau mendekati 30 tahun. Situasi ini bakal jadi pekerjaan rumah bagi kepengurusan PP PBSI berikutnya.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB