opini

Ibrahim AS sebagai Ummatan dan Komunitas Muslim Amerika

Senin, 17 Juni 2024 | 22:16 WIB
Ilustrasi suana Kabah di tanah suci (Yasir Gürbüz/pexels.com)

Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi

Umat Islam dunia merayakan Idul Adha. Perayaan hari penting dan bersejarah yang mengingatkan kita semua kepada perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS.

Idul Adha sesungguhnya bukan pada “sembelihannya”. Tapi yang lebih penting adalah makna-makna yang dapat dipetik dari mengingat pengorbanan itu.

Pada tulisan yang lalu saya sampaikan makna terpenting dari pengorbanan Ibrahim. Bahwa dengan perjuangan dan pengorbanannya Ibrahim telah berhasil menghadirkan tiga wujud transformasi penting dalam kehidupan manusia. Transformasi individiual, keluarga dan masyarakat, bahkan global. Hal yang tidak akan saya ulangi lagi.

Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah penggalan khutbah yang saya sampaikan pada Idul Adha kemarin pagi. Hal ini sangat erat kaitannya dengan gelar Ibrahim sebagai “Ummah” (Kaana ummatan qaanita) dan “Imaam” (inni jaa’iluka linnaas imaama).

Bahwa Ibrahim pada dirinya sendiri merepresentasi komunitas atau bangsa (umat). Bahkan diangkat menjadi pemimpin umat manusia (global) oleh Allah SWT.

Dalam khutbah saya yang cukup singkat (15 menitan) karena udara mulai panas, Saya menyampaikan bahwa komitmen kita dalam berislam jangan sampai dipahami secara sempit seolah Islam itu hanya agama individual yang mengajarkan ragam ritual serta dibatasi oleh dinding-dinding rumah ibadah. Justeru Islam harus dipahami sebagai agama kehidupan yang mencakup seluruh aspeknya.

Salah satu aspek terpenting dari ajaran Islam adalah mengatur sisi kehidupan jama’i manusia agar tetap lurus dan selaras dengan kefitrahannya.

Jika kehidupan publik manusia tidak diatur dengan norma dan batasan (huduud) maka kehidupan manusia secara sosial akan menjadi kehidupan rimba yang tidak sejalan dengan kefitrahan (kesucian) kemanusiaannya.

Selain itu manusia bisa menjadi buas bahkan lebih buas dari binatang buas. Bahkan manusia akan kehilangan pegangan moralitas dalam melihat yang baik sebagai kebaikan dan yang buruk sebagai keburukan.

Di sinilah urgensi umat ini mengingat Ibrahim sebagai ummatan (bangsa/masyarakat). Bahwa pada dirinya terpatri nilai keumatan yang ideal. Ibrahim itu haniif (lurus dalam akidah) dan karenanya “qaanita” (ketaatan) dalam kehidupannya. Dengan akidah yang benar dan solid Ibrahim memiliki komitmen ketaatan yang tinggi.

Jika hal ini kita tarik ke dalam kehidupan keumatan masa kini, ada dua hal yang saya garis bawahi.

Pertama, pentingnya umat ini merajut kembali puing-puing keumatan yang berceceran di mana-mana. Saya menyebutnya pentingnya untuk merekonstruksi kembali “our broken umat”. Bahkan saya menyebutnya sebagai “sick umat”.

Penyakit yang saya maksudkan adalah bahwa umat ini sedang mengidap penyakit kronis “wahan” sebagaimana diprediksi oleh Rasulullah sejak masa silam.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB