Beberapa tafsir menyebutkan hal yang sama, yaitu bersihnya hati dari kekufuran dan kemunafikan, pun demikian dengan Tafsir Al-Misbah karya Pak Quraish Shihab, “Kecuali bagi mereka yang beriman dan mengharap Allah dengan jiwa yang bersih dari kekufuran, kemunafikan dan sikap pamer”.
Mengenai kebersihan hati, terdapat kisah dalam hadis Nabi mengenai seorang sahabat yang masuk surga karena kebersihan hati. Hadis ini terdapat dalam beberapa kitab hadis seperti al-Muwattha, Musnad Ahmad, Sunan al-Nasa’i dan lain-lain. Dalam Sunan An-Nasa’i kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik sebagai sahabat yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
Suatu hari, Anas bin Malik bersama sahabat lainnya sedang duduk berbincang bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba Rasulullah saw. berkata, “Sebentar lagi akan datang seorang ahli surga”. Kemudian muncullah seorang dari kalangan Anshar, di jenggotnya tampak tetesan bekas air wudunya, sendalnya ia tenteng di tangan kirinya.
Keesokan harinya, Rasulullah saw. menyebutkan hal yang sama, dan laki-laki dari Anshar itu pun datang dengan kondisi yang sama sebagaimana hari pertama Rasulullah mengatakannya. Hingga keesokan harinya pun sama, Rasulullah menyebut-nyebut ahli surga itu kepada para sahabatnya.
Tatkala Rasulullah saw. pergi, Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash yang mengetahui perihal tersebut dan mengikuti perbincangannya pergi mengikuti orang Anshar tersebut.
“Aku sedang mengalami hubungan yang tidak baik dengan ayahku, lalu aku pun bersumpah untuk tidak menginap di rumahnya tiga malam, aku berpikir untuk menginap saja di rumahmu hingga habis masa sumpahku,” ujar Abdullah kepada orang Anshar tersebut.
“Ya, silakan” ujarnya
Anas bin Malik menceritakan, “Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash ketika itu menginap di rumah orang Anshar yang disebut Nabi sebagai ahli surga. Selama itu, Abdullah tidak sama sekali melihatnya bangun malam untuk beribadah kecuali setiap malam menjelang waktu tidurnya, ia berzikir menyebut Allah dan mengucapkan takbir hingga menjelang subuh ia berwudu. Selain itu,” kata Abdullah, “Aku tidak mendengar ia berkata-kata kecuali hal-hal yang baik”.
Selang tiga malam, hampir saja Abdullah menganggap remeh amalan orang Anshar itu, “Wahai engkau, sungguh aku dan ayahku sebenarnya tidak memiliki masalah dan aku pun tidak melakukan sumpah sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu itu. Hanya saja, aku mendengar Rasulullah saw. menyebutkan, ‘Akan datang seorang ahli surga’, dan saat itu pun engkau datang, hal itu beliau ulang sebanyak tiga kali di tiga pertemuan, dan selalu saja engkau yang muncul saat Rasulullah berkata demikian.”
“Saat tahu bahwa engkau adalah seorang ahli surga, aku penasaran, akun pun berinisiatif untuk menginap di rumahmu, ingin tahu apa sebenarnya amalan yang engkau kerjakan sehingga menjadikanmu ahli surga. Akan tetapi, aku sama sekali tidak melihatmu melakukan amalan yang besar. Jadi, apa sebenarnya yang menjadikanmu ahli surga hingga Rasulullah saw. langsung menceritakannya kepada para sahabat?” ujar Abdullah sambil bertanya.
“Tidaklah yang aku lakukan kecuali apa yang engkau lihat”. jawab lelaki Anshar itu dengan singkat.
Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash pun pamit untuk pulang. Tak lama beberapa langkah dari rumahnya, lelaki Anshar memanggilnya kembali, ia menegaskan,
“Wahai Abdullah, tidak ada ibadah yang aku lakukan kecuali apa yang telah engkau lihat, hanya saja aku tidak mendapati dalam diriku dendam dan kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin, aku tidak menyimpan hasad atas apa yang telah dikaruniai Allah kepada mereka”.
Abdullah bin ‘Amru berkata, “Ternyata inilah amalan yang membuatmu mencapai derajat ahli surga! Itulah amalan yang berat bagi kami”.
Dari kisah ini, terdapat pelajaran berharga, yaitu kebersihan hati adalah bagian dari kunci surga. Ia menghantarkan sang pemilik hati menuju ke haribaan Allah dengan tenang dan selamat. Dalam riwayat lain yang serupa, dinukil dari Kitab Jȃmi al-‘Ulȗm wa al-Hikam disebutkan:
رَوَى أَسَدُ بْنُ مُوْسَى، حَدَّثَنَا أَبُو مَعْشَر عَنْ مٌحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: «قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ عَلَيْكُمْ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ عَبْدُ اللهِ بْنِ سَلَام، فَقَامَ إِلَيْهِ نَاسٌ، فَأَخْبَرُوْهُ، وَقَالُوا: أَخْبِرْنَا بِأَوْثَقِ عَمَلِكَ فِي نَفْسِكَ، قَالَ: إِنَّ عَمَلِي لَضَعِيْفٌ، وَأَوْثَقُ مَا أَرْجُو بِهِ سَلَامَةَ الصَّدْرِ، وَتَرْكِي مَا لَا يَعْنِيْنِي»