Oleh: Ismael Amin Kholil
Jika ada sosok yang amat dicintai oleh jutaan orang dari berbagai elemen dan tingkatan, mulai dari orang awam sampai pejabat negara, maka guru kami Syaikhina Maimoen Zubair jelas adalah salah satunya.
Begitu besarnya cinta masyarakat kepada Mbah Moen, sampai-sampai ketika beliau wafat, karangan bunga yang dikirim ke Pondok Al-Anwar Sarang memanjang sampai jarak 1 Km lebih, beberapa diantaranya bahkan dari pemuka agama lain
Apa yang membuat sosok Mbah Moen begitu dicintai?
Selain kealiman beliau, salah satu “sirr”-nya mungkin adalah ke-tawadhu’an dan kesederhanaan beliau yang luar biasa
من تواضع رفعه الله
Ketika itu, meski sudah menjadi Ulama besar dengan ribuan santri, rumah beliau masih sangat sederhana, temboknya hanya batu-bata, lantai juga belum dikeramik.
Sampai pada akhirnya ketika beliau berangkat haji, atas persetujuan putra-putra beliau, salah satu pengurus pondok merenovasi rumah beliau agar lebih layak digunakan untuk menerima para tamu.
Setelah beliau pulang haji dan mengetahui rumahnya direnovasi, beliau duko (marah) karena itu, beliau bahkan pernah dawuh :
"Senajan omahku cilik, aku emoh bangun omahku, senajan tamu yo akeh, ben sak kamote, mergo biasane nek dibangun gedhe-gedhe malah ora iso dienggo ngaji, opo maneh aku isin karo Kanjeng Nabi seng daleme yo cilik, rompok utowo gubug :
ان الذين ينادونك من وراء الحجرات
Lafadz الحجرات iku maknane rompok utowo gubug "
“Meskipun rumah saya kecil, saya gak mau bangun rumah saya, meskipun tamu banyak, biar semuatnya saja. karena biasanya kalau dibangun besar nanti malah gak bisa dibuat ngaji. Apalagi saya malu kepada Kanjeng Nabi yang rumahnya kecil, hanya berupa gubug sederhana".
Salah seorang Ning dari Situbondo pernah bercerita kepada saya, ketika Muktamar NU di Sukorejo pada tahun 1980-an, Mbah Moen menginap di rumah keluarganya yang tidak jauh dari lokasi acara.