Buku pertama, “Atas Nama Cinta” (2012). Ini buku puisi esai pertama, yang memperkenalkan genre puisi baru. Ia merekam aneka diskriminasi yang masih terjadi, walau Indonesia beranjak ke era reformasi.
Buku kedua: “Jeritan Setelah Kebebasan” (2022). Puisi esai ini merekam konflik berdarah primordial yang terjadi di Indonesia, tak lama setelah reformasi. Yaitu konflik Islam vs Kristen di Maluku, konflik suku Madura vs Dayak di Sampit, kerusuhan atas etnik Cina di Jakarta, suku Bali versus penduduk asli di Lampung Selatan, dan pengusiran komunitas Ahmadiyah di NTB.
Buku ketiga: “Yang Tercecer di Era Kemerdekaan” (2024). Puisi esai ini merekam derita para pekerja Romusha, gadis pribumi yang dipaksa menjadi penghibur tentara Jepang, dan perempuan Indonesia yang dijadikan gundik, para Nyai, bagi tuan Belanda.
Apa beda tiga buku itu? Perbedaannya hanya dalam panjang dan pendek saja. Puisi esai dalam “Atas Nama Cinta” (2012) pernah dibacakan oleh Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Ina Febrianti, Niniek L Karim, Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama, memakan waktu sekitar 30 - 40 menit.
Puisi esai dalam “Jeritan Setelah Kebebasan” (2020), dibacakan oleh tim seniman dari Bali, dalam aneka video animasi, memerlukan waktu sekitar 15 menit.
Sementara puisi esai “Yang Tercecer di Era Kemerdekaan” (2024) jika dibacakan memerlukan waktu 5-7 menit. Ini waktu yang tak terlalu lama untuk dibacakan di panggung.
Kisah sejarah, dan peristiwa sebenarnya yang menyentak, yang menyebabkan banyak air mata, ataupun yang menimbulkan keriangan, akan lebih mudah diingat dan menyentuh hati, jika disampaikan lewat puisi.
***