Banyak dari mereka yang tidak pernah pulih sepenuhnya dari pengalaman mengerikan itu.
Ketika Jepang akhirnya kalah dalam Perang Dunia II pada tahun 1945, tentara Jepang meninggalkan pos mereka. Ditinggal pula para wanita penghibur ini tanpa perlindungan. Mereka dalam kondisi yang sangat rentan.
Bagi mereka, pulang ke kampung halaman bukanlah pilihan yang mudah. Mereka menghadapi stigma sosial yang berat. Seringkali mereka dicap sebagai pelacur bagi penjajah.
Isu lain yang juga tercecer di era kemerdekaan kisah gadis pribumi yang dipaksa menjadi simpanan, gundik, atau istri yang tak pernah dinikahi secara resmi oleh para tuan Belanda.
Satu contoh dari kisah nyai atau gundik itu adalah Nyai Ontosoroh. Itu karakter fiksi yang terkenal dari novel "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer.
Nyai Ontosoroh yang sebenarnya adalah Sanikem. Ia seorang wanita pribumi yang dipaksa menjadi gundik seorang Belanda bernama Herman Mellema.
Meskipun fiksi, kisahnya merefleksikan banyak realitas yang dihadapi oleh wanita pribumi pada masa kolonial. Sanikem dipaksa menjalani kehidupan sebagai gundik tanpa status pernikahan resmi, mengalami penderitaan dan perlakuan yang tidak adil dari masyarakat sekitar.
Selama masa kolonial Belanda, praktek concubinage atau nyai cukup umum. Diperkirakan puluhan ribu wanita pribumi menjadi nyai bagi pria-pria Belanda.
Para nyai ini secara resmi bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tetapi sering kali juga menjadi pasangan seksual majikan mereka.
Mereka memiliki hak yang sangat terbatas dan sering kali dianggap sebagai "furniture pribumi.” Sebagaimana properti, mereka juga bisa dijual atau dipindahkan, bersama rumah yang mereka tempati.
Ketika Jepang menginvasi Indonesia pada tahun 1942, banyak pria Belanda yang ditangkap dan dimasukkan ke kamp interniran. Para nyai dan anak-anak mereka sering kali ditinggalkan tanpa perlindungan.
Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka pada tahun 1945, situasi para nyai dan anak-anak mereka berubah drastis. Banyak dari nyai ini ditinggalkan oleh pasangan Belanda mereka yang kembali ke Eropa. Anak- anak mereka dibawa ke Belanda, dipisahkan dari Nyai, ibu kandung mereka.
Para nyai sering kali harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sulit.
Anak-anak hasil hubungan antara pria Belanda dan nyai pribumi dikenal sebagai Indo-Eropa. Mereka memiliki nasib yang beragam.
Beberapa dari mereka menghadapi diskriminasi dan perjuangan untuk beradaptasi dengan budaya baru.