opini

Penyesalan Bung Karno

Senin, 10 Juni 2024 | 15:56 WIB
Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, Lahir Pada 6 Juni 1901

Saat itu memang ada pilihan revolusioner melawan Jepang (non-kooperatif). Ada pula pilihan bekerjasama dengan Jepang (kooperatif). Pejuang Indonesia terbelah saat itu.

Bung Karno dan Hatta memilih jalan kooperatif, bekerja sama dengan Jepang. Dengan harapan, Jepang akan membantu kemerdekaan Indonesia.

Sementara politisi lain memilih jalan non-kooperatif, termasuk Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, Armunanto, A.A. Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Bung Karno bersedia menjadi pemimpin untuk memobilisasi tenaga rakyat dengan harapan mendapatkan simpati Jepang. Tapi derita tenaga kerja itu tak lagi bisa ditoleransi, bahkan oleh Bung Karno sendiri.

Jumlah romusha yang dipaksa bekerja oleh Jepang di Indonesia berkisar antara 4 hingga 10 juta orang.

Dari jumlah ini, sekitar 270.000 romusha dikirim ke luar Jawa. Ada pula yang dikirim ke Thailand dan Burma. Mereka bekerja di proyek-proyek seperti Jalur Kereta Api Burma-Thailand yang terkenal kejam.

Romusha hanyalah salah satu saja kisah rakyat banyak yang tercecer, dan tersisih, di era kemerdekaan. Kisah derita lainnya soal para gadis pribumi yang dipaksa menjadi perempuan penghibur tentara Jepang.

Mardiyem dapat bercerita banyak. Ia seorang gadis muda dari Yogyakarta. Pada tahun 1942, Mardiyem tertipu dengan janji menjadi penyanyi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pada saat itu, ia baru berusia 13 tahun. Ia berharap dapat menggapai mimpinya di dunia hiburan. Namun, setibanya di Banjarmasin, Mardiyem dibawa ke sebuah tempat yang disebut "comfort station.”

Astaga. Mardiyem kaget. Ia dipaksa menjadi budak seks bagi tentara Jepang.

Pada hari pertama, Mardiyem sudah diperkosa berulang kali oleh tentara Jepang. Sehari ia harus melayani 10-15 tentara Jepang. Ini sebuah pengalaman traumatis yang berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun.

Kisah Mardiyem salah satu saja dari banyak kisah tragis yang dialami oleh perempuan di seluruh Asia selama Perang Dunia II. Ada sekitar 200.000 wanita yang dipaksa menjadi gadis penghibur bagi tentara Jepang.

Para wanita ini berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, dan Cina.

Di Korea Selatan, mereka dikenal sebagai "comfort women" atau wanita penghibur. Banyak dari mereka dipaksa dengan cara yang sama seperti Mardiyem.

Trauma fisik dan emosional yang mereka alami sangat mendalam. Itu menyebabkan banyak dari mereka mengalami gangguan kesehatan jangka panjang, depresi, dan stigma sosial.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB