Oleh: Denny JA
Kata-kata sedih itu diekspresikan Bung Karno.
“Hati di dalam seperti diremuk-remuk. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian. Aku mengirim mereka kerja paksa.”
“Aku membuat pernyataan menyokong pengerahan Romusha. Di dekat Bogor, aku bergambar dengan topi di kepala. Dengan cangkul di tangan. Betapa mudahnya, betapa enaknya menjadi Romusha.”
Kata-kata ini, saya susun ulang, direkam dalam buku biografi 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' yang ditulis Cindy Adams (1965).
Ini momen ketika Bung Karno melakukan refleksi atas perannya memobilisasi rakyat ikut dalam kerja Romusha, di era penjajahan Jepang (1942-1945).
Tak diduga Bung Karno. Rakyat yang ia anjurkan membantu Jepang dalam kerja paksa ternyata menjadi sejenis budak.
Sebagian mereka ikhlas kerja paksa karena mencintai Bung Karno, menuruti ajakannya.
Tapi ternyata mereka mati merana. Tersiksa. Disiksa.
Kurang istirahat. Kurang makan. Berjejal ditumpuk di kereta ketika dikirim ke luar Jawa. Atau berdesakan di kapal laut ketika dikirim ke luar negeri.
Banyak dari mereka mati di jalan. Mayatnya dibuang ke laut, dibiarkan membusuk di jalan, atau dikubur masal. Dipancung kepalanya.
Sebagian mati karena penyakit, terkena malaria, disentri. Sebagian mati karena kelelahan dan kelaparan. Sebagian mati karena disiksa. Yang tetap hidup, banyak yang badannya tinggal tulang dibalut kulit.
Foto aneka pekerja Romusha ini, yang seperti tengkorak berjalan, masih banyak yang dapat kita lihat di Google.
Bung Karno, sebagai pemimpin, saat itu berada pada posisi sulit. Ia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Jepang sudah mengalahkan Belanda.
Di tahun 1942, Jepang membangun PUTERA (Pusat Tenaga Kerja) yang diketuai oleh Soekarno, dan dibantu oleh Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur.