opini

Asisten Pelukis Bernama Artificial Intelligence Akan Melampaui Van Gogh?

Kamis, 6 Juni 2024 | 09:17 WIB
Vincent van Gogh. (Foto: Van Gogh Museum)

Ada anak kecil dari satu desa yang naik sepeda dan membayangkan dirinya melayang di antara planet-planet yang luas. Juga ada anak-anak yang membayangkan mereka masuk ke dalam laut dan bermain dengan ikan-ikan sebagai sahabatnya.

Begitulah dunia anak-anak saya potret dalam lukisan. Dunia mereka wilayah imajinasi yang tumbuh subur.

Lantai bawahnya lagi khusus untuk aneka lukisan dengan telinga yang besar. Itu sebagai simbol mendengarkan. Saya gambarkan tokoh yang dalam hidupnya banyak mendengar, telinganya lebih besar.

Di sana ada Mahatma Gandhi, Nelson Mandela. Ada Bunda Teresa, Dalai Lama. Juga hadir tokoh-tokoh lain yang mungkin tidak kita kenal, tetapi mereka mendedikasikan diri untuk mendengar.

Lantai di bawahnya lagi, saya melukis ulang berbagai pelukis dunia. Remaking. Tetapi dalam lukisan itu saya berikan bobot baru sesuai dengan zaman sekarang.

Ada Da Vinci, Michelangelo, Van Gogh, Pablo Picasso, tetapi juga generasi berikutnya seperti Andy Warhol, Gustav Klimt, Frida Kahlo, Fernando Botero.

Bahkan juga ada pelukis Indonesia seperti Raden Saleh, Dede Eri Supria dan Affandi, yang lukisannya saya lukis ulang.

-000-

Dengan datangnya artificial intelligence yang bisa menjadi asisten melukis, muncul tiga pertanyaan penting.

Pertama, sah kah atau tidak jika lukisan dengan AI ini tetap diklaim sebagai karya sang pelukis itu sendiri?

Jawabnya: sah! Lukisan itu tetap bisa diklaim sebagai karya pelukis itu sendiri. Memang sang pelukis itulah yang masih memegang kendali.

Dalam pengalaman saya pribadi, sayalah yang menentukan apa topik yang ingin saya lukis, pesan apa yang hendak saya sampaikan, serta filosofinya dan komposisinya.

AI hanyalah asisten untuk melengkapi secara teknis. Setelah selesai, tetap saya sendiri yang mengerjakan finishing touch-nya sehingga ada emosi dalam lukisan itu.

Pertanyaan kedua, apakah karya yang dibantu AI masih bisa dianggap karya seni?

Jawabannya juga sama, ya ini karya seni. Karya seni selalu membawa kepada satu zaman baru yang sebelumnya belum bisa diduga.

Halaman:

Tags

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB