Karya-karya Imam Al-Ghazali sangat mementingkan otonomi individu dalam perjalanan spiritualnya (seorang "salik"), tidak terikat dan fanatik pada satu tarekat (thariqah), keintiman dengan ilaihi merupakan pengalaman yang sangat individual.
Membaca karya-karya Imam Al-Ghazali, setiap kita, setiap individu kita diajak untuk mendaki menjadi individu yang memiliki imajinasi dan pengalaman personal dalam berelasi dengan Tuhan.
Kemesraan dengan Tuhan merupakan pengalaman personal yang membebaskan dan sangat pribadi bukan pengalaman komunal yang sering merepresi.
Namun pembahasan ini bisa di lain tulisan karena bisa kepanjangan. Sambil merujuk ke kitab karya Prof Abu Ala Afifi bahwa tasawuf adalah "ats-tsawrah ar-ruhiyyah fil Islam" (revolusi spiritual dalam Islam).
Walhasil, 'memahami' Mas Ulil saat ini mungkin bisa juga dengan istilah pesantren, saat ini Ulil sedang me-'nashab'-kan dirinya menjadi 'abdallah' (hamba Allah) dengan tenggelam dalam tasawuf setelah sebelumnya menjadi 'abshar' yang lebih dekat dengan akal, rasionalitas.
Meng-abdallah-kan Ulil Abshar ini yang sedang terjadi.