opini

Meng-abdallah-kan Ulil Abshar

Senin, 27 Mei 2024 | 14:00 WIB
Ulil Abshar (Tangkapan layar akun X @faizalassegaf dan akun X @ulil)

Oleh: Mohamad Guntur Romli

Saya pertama kali bertemu dengan Mas Ulil di Cairo Mesir tahun 1999. Saya diajak senior saya, yang kini Dubes RI untuk Tunisia YM Zuhairi Misrawi menemani Mas Ulil yang saat itu berkunjung ke Cairo untuk bertemu dan mewancarai beberapa tokoh intelektual Mesir.

Mas Ulil masih di Lakpesdam dan di Majalah Panji Masyarakat. Bertemu dengan alm Prof Hassan Hanafi di rumahnya. Bertemu Alm Prof Ali Mabruk di kampus Cairo University.

Mas Ulil tidak hanya wawancara namun sebenarnya mengadu gagasan dan melontarkan pertanyaan yang berasal dari kegelisahannya terhadap wacana keislaman.

Yang saya kagum meskipun Mas Ulil tidak pernah kuliah di negeri Arab, tapi bahasa Arabnya sangat fasih dan menguasai perkembangan pemikiran dunia Arab yang kemudian saya ketahui belakang, berkat diskusi intens Mas Ulil sebagai aktivis muda NU, baik di PMII, Kajian 164 dan Gus Dur yang mengenalkan pemikiran Hassan Hanafi, Abid Al-Jabiri dan lain-lain.

Pertemuan dgn Hassan Hanafi yang paling mengesankan bagi saya. Proses rekaman yang masih menggunakan kaset dan tape recorder mengabadikan lontaran-lontaran gagasan Hassan Hanafi pada kritik tradisi Islam yang terlalu teosentris (keilahian) daripada antroposentris (kemanusiaan), padahal agama diturunkan untuk kepentingan manusia, untuk membela rakyat (دفاعا عن الشعوب) bukan untuk membela Tuhan.

Misalnya ilmu aqidah adalah alat unt membela ketuhanan dengan teori yang abstrak, ghaib, padahal Tuhan kata Hassan Hanafi terkait dengan hal-hal konkret yang kemudian mengutip ayat 3-4 surat Quraisy "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah)".

"Siapa Tuhan yg dimaksud ayat ini? Apa Dia ghaib, abstrak dgn teori2 yg njlimet?"

Kira-kira begitu kata Hassan Hanafi.

Tuhan itu kongkret, karena Dia "yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan".

Jadi Tuhan itu konkret, Tuhan itu terkait dengan "hubz" (roti) [makanan pokok orang Mesir], dengan sistem yang memberikan rasa aman bagi manusia. Artinya, hal-hal ketuhanan itu bertranformasi dengan kemanusiaan yang konkret.

Saat itu Mas Ulil juga aktif melontarkan gagasan-gagasannya di milis KMNU dan selanjutnya mendirikan Jaringan Islam Liberal (JIL) tahun 2001 bersama Mas Luthfi Assyaukanie, Nong Darol dll yang saya juga nikmati perkembangannya dari Mesir melalui milis Islam Liberal.

Gagasan-gagasan Mas Ulil dan JIL menghebohkan, khususnya tulisannya di Kompas tahun 2002 "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" dengan kalimat pembuka yang ciamik:

"Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah "organisme" yang hidup; sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai "patung" indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah."

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB