Dengan kata lain, penomoran Ayat Al-Qur'an bukanlah merupakan atau tidak termasuk Wahyu, melainkan hasil usaha manusia, sama halnya seperti: tasykil, tanda titik, tanda baca, pembagian ke dalam 30 juz, dan tanda ruku'.
Untuk menjawab pertanyaan yang penting ini (kenapa Surah terpanjang dari semua Surah dalam Al-Qur'an, yaitu, Surah al-Baqarah dengan 286 ayat, terletak di bagian paling awal dalam Al-Qur'an?), pertama-tama harus diingat bahwa Allah telah menyatakan bahwa Dialah yang telah membagi Al-Qur'an sehingga ia bisa dibacakan dalam jangka waktu tertentu.
وَقُرْاٰ نًا فَرَقْنٰهُ لِتَقْرَاَ هٗ عَلَى النَّا سِ عَلٰى مُكْثٍ وَّنَزَّلْنٰهُ تَنْزِيْلًا
"Inilah Al-Qur'an yang telah Kami bagi menjadi beberapa bagian, yaitu, Suwar (jamak dari surah). Demikianlah Kami membuatnya agar engkau dapat membacakannya kepada manusia dalam jangka waktu, dan selaras dengan pembagian Suwar tersebut, Kami juga menurunkannya sebagian demi sebagian."
(QS. Al-Isra: 106).
Implikasi dari ayat di atas adalah bahwa Allah telah menyusun Al-Qur'an ke dalam Suwar agar Suwar ini berfungsi sebagai _Ajza_ (juz-juz) atau bagian-bagian untuk dibacakan ketika ingin mengkhatamkan Al-Qur'an.
Pembacaan seperti itu dapat digunakan dalam interval pembacaan harian agar dapat mengkhatamkan seluruh isi Al-Qur'an dalam waktu satu bulan lunar.
Tentu saja, interval tersebut bisa juga diterapkan untuk membacakan seluruh Al-Qur'an setiap 20 hari, atau 10 hari, atau setiap 1 minggu.
Allah yang Maha Bijaksana menempatkan Surah terpanjang dari semuanya di bagian awal Al-Qur'an, yaitu Surat Al-Baqarah setelah Surah Al-Fatihah, untuk maksud dan tujuan tertentu.
Nabi Muhammad SAW tidak pernah memenggal Surah al-Baqarah ke dalam beberapa bagian untuk pembacaan harian. Sungguh, Allah telah melarang pemotongan yang demikian terhadap Surah-surah dalam hal pembacaan harian Al-Qur'an.
Dia melarangnya seraya menyatakan dalam Surah al-Hijr bahwa Dia mengirimkan Nabi Muhammad sebagai pemberi peringatan, lalu Dia melanjutkan dengan memperingatkan mereka yang dengan sewenang-wenang membagi-bagi Al-Qur'an (dalam hal pembacaan) bahwa mereka harus menjawab pertanyaan-Nya di Hari Penghakiman:
فَوَرَبِّكَ لَـنَسْـئَلَـنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ
عَمَّا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Katakan pada mereka wahai Muhammad: aku adalah pemberi peringatan yang memperingatkan kamu, dan aku melakukannya dengan cara yang jelas dan tanpa ambiguitas, memperingatkan kamu dari kemarahan Ilahi yang menimpa atas Muqtasimin yang membagi-bagi Al-Qur'an dengan sewenang-wenang menjadi kepingan dan irisan. Allah Yang Maha Tinggi kemudian mengambil sumpah: Demi Rabb-mu wahai Muhammad, Aku pasti akan meminta pertanggung jawaban kepada mereka atas apa yang telah mereka lakukan (oleh karenanya suatu hari kelak mereka semua harus memberikan jawaban kepadaku atas perbuatan mereka membagi Al-Qur'an menjadi kepingan dan irisan)."
(QS. Al-Hijir: 92-93).
Dari Ayat ini diperoleh penjelasan tentang mengapa Surah terpanjang dalam Al-Qur'an ini diletakkan di bagian paling awal dalam Al-Qur'an.
Dengan demikian, maka Al-Qur'an tidak bisa dibagi-bagi lagi dengan seenaknya sebagai _Ajza_ dalam pembacaan harian. Apakah kita akan mengaji Al-Qur'an untuk mengkhatamkannya dalam satu bulan lunar, atau bahkan lebih pendek dari itu, maka seluruh Surah al-Baqarah haruslah dibacakan di hari pertama bulan lunar.
Allah SWT meletakkan Surah terpanjang di bagian paling awal Al-Qur'an untuk menguji, apakah mau menghormati batasan-batasan yang telah Dia tetapkan dalam Al-Qur'an, dan oleh karenanya, mengakui keseluruhan Surah al-Baqarah sebagai juz pertama yang harus dibacakan bagi mereka yang bermaksud untuk mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu satu bulan lunar.