Jawaban Prabowo cukup ngelantur keluar dari isu yang ditanyakan. Tapi intinya dia mengatakan bahwa tim kampanyenya telah menyampaikan bahwa keputusan MK itu telah disahkan dan tidak bisa dirubah dengan keputusan MKMK. Lebih jauh lagi Prabowo dengan suara yang emosional mengatakan: “biarlah rakyat yang menentukan. Kalau mereka tidak memilih Prabowo-Gibran iya silahkan”. Bahkan lebih lanjut ngelantur: “Mas Anies Mas Anies, saya tidak punya apa-apa. Saya tidak butuh jabatan”. “Sorry yee, sorry yee”, tutupnya bak remaja yang saling mengejek.
Yang menarik juga adalah begitu banyak pendukung Prabowo yang mencoba memberikan pembelaan dengan argumentasi bahwa itu adalah gaya pribadi Prabowo. Bahkan dibumbui dengan kata-kata: “itu adalah kepribadian yang apa adanya. Tidak dibuat-buat”. Mereka ingin mengatakan bahwa kesantunan dan senyuman Anies itu dibuat-buat dan sekedar tipuan. Tentu tuduhan yang jahat dan menggelikan.
Belakangan baru saya sadar bahwa pengakuan jika itu karakter asli memang benar. Itu adalah karakter asli Prabowo. Karakter yang tidak tahan dikritik dan sangat labil secara emosional. Hal itulah yang kemudian terekspos ketika di sebuah acara internal partainya dia kembali mengumpat Anies (tanpa menyebut nama) dengan kata-kata: “etik, etik,…ndusmu etik”.
Walaupun banyak pendukung yang mencoba meluruskan bahwa itu hanya candaan, tapi siapapun dengan secuil berakal sehat akan paham bahwa memang itulah karakter asli Prabowo. Debat yang seharusnya selesai di ruang acara debat, kini terbawa keluar. Rupanya belum bisa “move on” rupanya. Seolah menggambarkan karakter pendendam dari yang bersangkutan.
Ini bertentangan dengan berbagai argumentasi yang selama ini kita dengar dari para pendukungnya. Bahwa bergabungnya Prabowo dengan pemerintah Jokowi menunjukkan jiwa pengorbanan, ketulusan, persatuan, rekonsiliasi, dan banyak lagi. Tapi dengan kejadian di acara debat dan kata “ndusmu” semua jelas bahwa ternyata karakter dendam itu karakter apa adanya.
Itulah yang terjadi dengan penyebutan kembali jasanya mencalonkan Anies. Bukankah kalau tulus tidak lagi mengungkit lagi? Lalu dengan kata “ndesmu” bukankah itu merupakan bentuk paradoks dari pengakuan para pendukung jika Prabowo adalah orang yang manis hati, berjiwa pengorbana, dan rekonsiliasi?
Dengan semua itu, benar kan?