Artinya, dua sifat dan karakter dalam posisi antagonis inilah yang membuat gamang Sri Eko Sriyanto Galgendu melihat perubahan yang sangat mencolok dari sosok Joko Widodo yang diakuinya pernah dikenal dengan sangat dekat jauh sebelum menjadi Walikota Solo, kemudian sesaat menjabat Gubernur DKI Jakarta hingga kemudian menjadi Presiden Indonesia sampai dua periode dan sempat diwacanakan untuk tiga periode.
Dan sifat serta sikap Rahwana yang bermuka 10 itu, terwujud dari kata yang tidak sesuai dengan perbuatannya. Karana apa yang dikatakan Rahwana, ujar Sri Eko Sriyanto Galgendu tidak seperti yang dilakukannya. Munafik, hipokrit !
Jadi sikap dan sifat Rama Wijaya atau Rahwana dalam sosok Joko Widodo sekarang dalam pandangan Sri Eko Sriyanto Galgendu, sangat meresahkan ketika mengacu pada kegundahan Wartawan senior Panda Nababan yang mengungkap secara gamblang kekecewaannya terhadap Joko Widodo, baik sebagai anggota maupun petugas partai dari PDIP, terkesan seperti Si Malin Kundang yang durhaka itu. Sementara keprihatinan Goenawan Moehammad sebagai pendukung berat Joko Widodo saat ingin menjadi Presiden, sangat kecewa karena merasa telah dikadali dengan cara yang culas, sangat tidak berbudi.
Baca Juga: PB IDI Mengingatkan Proses Pemeriksaan Kesehatan Capres Cawapres harus Independen dan Imparsial
Rasa kecewa banyak orang terhadap sikap dan tindakan Joko Widodo pada masa akhir jabatannya sekarang ini, bukan cuma karena cawe-cawe dalam proses Pilu 2024, proses memilih calon Presiden dan Wakil Presiden, tetapi juga melanggar etika kepatutan untuk tidak ikut cawe-cawe dan melakukan pembiaran terhadap MK melanggar hukum dengan membuat aturan baru untuk memuluskan Putra Mahkotanya melenggang ikut Pemilu 2024.
Akibatnya, kegaduhan yang terjadi semakin mengarah pada kerusuhan yang sangat amat mengkhawatirkan dan menganvmcam bagi kelangsungan tata kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang sepatutnya harus dapat dijaga bersama.***