opini

Karena Kita Adalah Musafir

Senin, 23 Oktober 2023 | 21:18 WIB
Ilustrasi musafir di padang gurun sedang menunggangi unta. (Foto: Pexels.com - Tomas Malik)

Oleh : Ustadz Satria Hadi Lubis

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma mengisahkan: “Suatu hari Rasulullah saw memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”.

Baca Juga: Dahsyat...Dakwah Santri Melalui Shalawat Nariyah di Aula Anwar Musaddad UIN SGD Bandung

Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum matimu” (HR. Bukhari).

Seperti orang asing atau musafir, itulah logika kehidupan yang sesungguhnya. Orang asing atau musafir tidak akan pernah merasa tenang dan nyaman dengan kondisinya saat ini, meskipun ia hidup dengan segala kemewahan.

Ia tidak akan merasa bahagia kecuali setelah berada di kampung halamannya, tak jarang ia mempercepat gerak dan langkahnya agar urusannya segera selesai dan kembali ke negeri asalnya.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan, " Sejak diciptakan, manusia selamanya akan terus menjadi musafir. Tidak ada batas akhir perjalanan mereka kecuali surga atau neraka."

Sahabat fillah.
Tahukah Anda mengapa Rasulullah memegang pundak Ibnu Umar..?
Itu karena Rasulullah saw ingin agar wasiatnya tertanam dilubuk hati Ibnu Umar. Cara itu juga mencerminkan kesungguhan Rasulullah dalam menasehati Ibnu Umar agar menjadi musafir yang baik. Adapun pesan untuk menjadi musafir atau orang asing itu tidak hanya berlaku untuk Ibnu Umar saja, tetapi juga untuk seluruh umatnya.

Baca Juga: Kawal Aksi Solidaritas Bela Palestina, Polres Sukabumi Kota Terjunkan Ratusan Personel

Memang... Kesadaran bahwa kita tak lebih dari seorang musafir akan menuntun mata hati kita supaya tidak mudah silau, jauh dari mental cepat terpukau oleh kenikmatan sesaat, serta mudah terpesona dengan apa yang ada di depan mata. Kesadaran ini juga akan menuntun mata hati kita untuk memandang jauh melewati batas-batas materi.

Pada keaslian hidup yang sesungguhnya, yaitu kampung akhirat. Karena Gemerlap dunia membutuhkan penyikapan yang arif, tidak cukup dengan menggunakan sisi-sisi kemanusiaan semata.
Dibutuhkan mata hati, bukan sekedar mata kepala, dibutuhkan ketajaman iman dan tidak semata kalkulasi duniawi.

Penyikapan inilah yang dengan izin Allah Azza wa Jalla akan memberikan kita taufiq sebagai pengendali utama atas segala tindak laku kita, sehingga kita bisa berjalan diatas rel yang benar.

Baca Juga: Anak Berstatus WNA Tetap Berhak Menjadi Ahli Waris Dari Pewaris Yang Berstatus WNI

Selanjutnya, ungkapan Ibnu Umar Radhiallahu anhuma untuk tidak menunggu pagi maupun sore mengandung tafsiran yang sangat dalam. Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr mengatakan, "Sungguh Ibnu Umar sebagai perawi hadits ini dari Rasulullah telah menafsirkannya dengan memberi perumpamaan yang sangat tepat".
Apa yang dikatakan syaikh memang benar, ucapan Ibnu Umar mengajarkan pada kita untuk selalu tanggap terhadap setiap peluang yang datang serta pantang menunda dalam melakukan amal kebajikan. Karena sikap menunda-nunda atau dalam bahasa arabnya 'Taswif' merupakan senjata setan yang paling ampuh dalam melemahkan potensi hidup seorang hamba.

Halaman:

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB