NU di Persimpangan Jalan: Antara Basyiroh dan Bisyaroh

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 21 Agustus 2026 | 12:10 WIB
Muhammad Ikhsanurrizqi (Ketua BEM PTNU Se-Nusantara)
Muhammad Ikhsanurrizqi (Ketua BEM PTNU Se-Nusantara)

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu sibuk mencatat berapa banyak orang yang berada di belakang seorang kandidat. Sejarah akan mencatat apa yang dilakukan setelah amanah kepemimpinan berada di tangan mereka.

NU hari ini membutuhkan basyiroh.

Kita membutuhkan kejernihan untuk melihat bahwa tantangan NU ke depan bukan hanya persoalan internal organisasi, tetapi juga kemiskinan, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, perubahan geopolitik, masa depan pesantren, dan keresahan generasi muda.

Generasi muda NU tidak hanya membutuhkan figur yang populer. Mereka membutuhkan arah. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh. Mereka membutuhkan organisasi yang mampu menjawab zaman tanpa kehilangan identitas.

Karena itu, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: NU ini hendak dibawa ke mana?

Jika persimpangan ini dihadapi dengan basyiroh, maka muktamar akan menjadi jalan menuju pembaruan dan kemaslahatan.

Tetapi jika persimpangan ini hanya dipenuhi kalkulasi bisyaroh, kita patut khawatir bahwa yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar kontestasi kepemimpinan, melainkan marwah jam’iyah.

Mari jadikan muktamar sebagai ruang untuk memenangkan gagasan, bukan sekadar memenangkan orang.

Sebab NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi pertarungan kepentingan.

NU terlalu berharga untuk dipertukarkan dengan transaksi sesaat.

Dan NU terlalu panjang sejarahnya untuk kehilangan arah hanya karena kepentingan lima tahun.

Di persimpangan jalan menuju Muktamar ke-35, pilihan kita sederhana: mempertajam basyiroh atau membiarkan bisyaroh menentukan arah.

Semoga para pengambil keputusan diberi kejernihan hati, keluasan pandangan, dan keberanian untuk memilih jalan terbaik bagi NU.

Karena pada akhirnya, yang kita perjuangkan bukan siapa yang duduk di kursi kepemimpinan, tetapi bagaimana NU tetap menjadi jalan khidmah bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kepemimpinan yang Dibutuhkan NU

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:12 WIB

Merdeka dari Kemiskinan

Senin, 17 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Diantar Sosiologi

Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:57 WIB

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB
X