Ada Drama Juga Permainan di Balik Kebijakan Gas LPG 3 Kilogram, Siapa Dirugikan? (2)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 7 Februari 2025 | 06:00 WIB
Gas LPG 3 kilogram untuk warga yang berhak menerima sesuai ketentuan yang berlaku. (ANTARA/Ogen)
Gas LPG 3 kilogram untuk warga yang berhak menerima sesuai ketentuan yang berlaku. (ANTARA/Ogen)

Oleh: Agung Wibawanto

Kondisi ini (kelangkaan gas melon) sampai terekam viral baik foto maupun video menunjukkan adanya antrian panjang warga berharap mendapat setabung gas. Bahkan ada yang terjadi percekcokan antara konsumen dengan agen. Ada pula antara warga dengan warga, bahkan seorang ibu rumah tangga dikabarkan meninggal dunia karena tidak kuat harus mengantri lama.

Ini kan aneh. Aparat tidak tampak batang hidungnya satu pun. Tapi coba lihat saat program MBG digulirkan banyak aparat bahkan TNI di sana, ngapain? Lalu kemana stok gas melon yang seharusnya menurut Pertamina sangat cukup? Di sini drama dan permainannya. Sekali tepuk, dua nyamuk didapat. Konsentrasi masyarakat beralih dari Pagar Laut dan pastinya dapat cuan.

Dikabarkan pula bahwa ternyata Bahlil belum melaporkan kebijakan itu kepada presiden sebagai kepala pemerintahan, alias sebagai atasannya. Prabowo yang selama ini dikenal tidak mau menyusahkan rakyat, seperti dilangkahi. Ini juga diduga sebagai 'serangan balasan' Si Mantan kepada Prabowo yang dianggapnya tidak membela Aguan cs (bahkan menginstruksikan untuk membongkar dan usut tuntas).

Kembali, saat gajah bertarung pelanduk mati di tengah-tengah. Rakyat yang sudah hidup susah (pajak dinaikan, harga sembako melunjak dll), harus bertambah himpitan beban hidup. Indonesia Emas yang dikoar-koarkan bisa berganti menjadi Indonesia Cemas. Anak sekolah harus makan serangga, keluarga kembali masak memakai kompor minyak atau tungku kayu bakar. Indonesia tengah krisis.

Kisah drama ini diyakini masih belum berakhir dan ini barulah permulaan. Pertarungan utama yang tersembunyi sesungguhnya pertunjukan siapa paling kuasa antara presiden Prabowo dengan Si Mantan yang juga dikenal dan ingin dikenang sebagai Raja Jawa. Beberapa menteri titipannya juga terancam direshufle sehingga Raja Jawa tidak akan berdiam diri.

Ketiga menteri atau setingkat menteri (yang dianggap loyalis) itu ada Men BUMN, Men Koperasi dan Kapolri. Sementara Menko Perekonomian dan Menko Pangan, merupakan orang-orang tersandera akibat kasus korupsi yang menyeretnya. Masih ada pula Men ESDM serta seorang senior Ketua Dewan Ekonomi, namun hanya Bahlil yang dianggap masih memiliki loyalitas tinggi.

Masa honeymoon antara Prabowo dengan Raja Jawa sepertinya tidak akan bertahan lama (mirip dengan konflik politik di Philipina). Sekarang pun tampaknya mulai renggang meski banyak ditutupi oleh drama kebohongan. Keduanya saling berusaha ingin menunjukkan siapa penguasanya. Pertarungan yang sungguh tidak sehat dan tidak perlu bagi kehidupan bangsa dan negara.

Rakyat yang akan dirugikan. Lihat pula bagaimana aparat kepolisian yang dikuasai Raja Jawa semakin tidak populer di mata masyarakat. Perilaku koruptif seperti pungli dan pemerasan kerap terjadi dilakukan partai coklat. KPK pun demikian tidak bisa diandalkan mengungkap kasus-kasus korupsi besar yang melibatkan pejabat negara. Yang mereka serang hanyalah lawan politik Raja Jawa.

Cacing saja akan menggeliat jika diinjak, bagaimana dengan rakyat? Banyak pengamat peringatkan Prabowo agar berhati-hati. Komprominya kepada Raja Jawa yang sudah menimbulkan banyak kerusakan dalam pengelolaan negara, plus mengakomodir menteri yang tidak kompeten, hanya akan menimbulkan kegelisahan rakyat makin memuncak. "Bom waktu itu tinggal tunggu meledaknya saja."

Sementara pengamat lain mengatakan, bahwa harga dari seluruh kerusakan tersebut akan membuat kerugian besar bagi bangsa. Ia mencontohkan kasus Pagar Laut, di mana negara juga yang harus keluarkan biaya untuk membongkar sementara hasil yang didapat tidak ada, "Itu sebuah kerusakan yang mengakibatkan lama-lama bangsa ini bisa bangkrut, sementara pendapatannya nihil," tambah pengamat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB
X