Tjiandjoer dalam Logo Hindia Belanda (Loh Djinawi-Sugih Mukti)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 8 November 2024 | 05:26 WIB

Oleh: Heri Firmansyah

Dalam buku Nederl-Indische Gemeeentewapens (lambang kota Belanda-India) pengarang Dirk (Jr) Ruhl, tahun penerbitan 1933, sebanyak (86 hal) Perpustakaan Universitas Leiden. Pada hal- 48, Tjiandjoer memiliki logo dengan "de Wapenspreuk is (motto) "Loh Djinawi."

Asal usul kata Loh Djinawi

Kata "loh jinawi" merupakan bagian dari ungkapan atau peribahasa dalam bahasa Jawa yang berbunyi "gemah ripah loh jinawi". Ungkapan ini memiliki arti "kekayaan alam yang berlimpah".
Ungkapan "gemah ripah loh jinawi" sering juga digunakan sebagai semboyan daerah, seperti desa, kabupaten, kota, hingga provinsi, salah satunya Tjiandjoer.

Apa itu Loh Jinawi?
Loh Jinawi artinya subur makmur.
Gemah ripah loh jinawi berarti (kekayaan alam yang berlimpah) sedangkan toto tentrem karto raharjo(keadaan yang tenteram).

Kenapa loh djinawi?

"Indonesia, adalah negara terkaya di dunia, bahkan seluruh kesuburan tanah di Eropa jika dikumpul tak akan menyamai kesuburan di tanah Jawa.”

Petikan kalimat di atas terdapat dalam naskah kuno “Babad Tanah Jawi”. Di situ, ada kesaksian Belanda sebagai negara penjajah tentang Indonesia yang “Gemah Ripah Loh Jinawi”.

Dalam Naskah “Babad Tanah Jawi” merupakan salah satu naskah kuno tahun 1700-an mengenai sejarah Indonesia yang kini awet tersimpan di tanah air. Sayang, tidak banyak naskah kuno yang bernasib baik seperti “Babad Tanah Jawi”.

Dalam Babad Majapahit ada ungkapan (Dandanggula, hal 65-66, balai pustaka)

"Sri Nalendra Ratu Majapahit Kartarajasa Jayawardana terkenal sang pemberani ada pula yang nyebut BraWijaya juga terpenpertama sebab asalnya pemula termasyhur yang memerintah negara makin lama negaranya makin wangi luas pemerintahannya.Demikian pula pusat negri cepat benar melebar luasnya tambah besar tambah ramai gedung-gedung dibangunlebih-lebih wilayah puri bagaikan jadi tanda ibukota masyhur Ramai murah sandang pangan Panjang-punjung pasir wukir loh jinawi "

Panjang punjung pasir wukir loh djinawi adalah ungkapan untuk mengatakan negara aman tentram, murah sandang murah/cukup pangan"

Lalu bagaimana dengan sugih mukti?

untuk SUGIH MUKTI sendiri sudah menjadi lembaran Daerah (peraturan Daerah) Nomer 19 Tahun 1987 "Tentang lambang daerah kabupaten tingkat II" jaman Bupatinya pa Arifin Yoesof dan DPRD nya Drs Djunaedi dan Gubenurnya Rudini.
(Untuk arti, makna dan filosofis baca dokumen perda)

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Keutamaan Menyantuni Kaum Duafa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X