Selain itu, banyak sekali tradisi pra-Islam yang kemudian dikonversi oleh Walisongo menjadi tradisi Islami yang sampai saat ini ada di Indonesia dan menjadikan Islam mengakar dan kuat.
Intinya, Islam–khususnya NU–tidak serta merta mengutuk bungkus, namun yang lebih penting dari itu adalah isi dan substansi.
Baca Juga: Fix! 2024 Ibu Kota Negara Resmi Pindah ke Kalimantan Timur
Pun demikian Hari Valentine. Jika kemudian santri dan generasi Islam zaman now mampu mengubah isinya menjadi hal yang positif, inspiratif, konstruktif, bukankah itu lebih hebat dampaknya dari sekadar fatwa? Dan, sanggupkah generasi yang mengaku penerus Walisongo melakukannya?
*) Penulis adalah santri, kader muda NU, tinggal di Purworejo, Jawa Tengah.