Namun, saya memprediksi bahwa masih banyak para pelajar dan remaja kita yang mengekspresikan dengan cara-cara biasa, yaitu saling memberi coklat atau hadiah, yang merupakan korban dari tren (saya sendiri dulu pernah jadi korban ketika SMP).
Jadi, jika ditilik lebih dalam, perayaan Hari Valentine di Indonesia yang sudah menjadi budaya, khususnya di kalangan remaja, tidak serta merta dimaknai secara teologis bahwa itu berasal dari tradisi non-Muslim.
Juga tidak serta merta harus dihukumi secara fiqih bahwa itu tasyabbuh dengan budaya yang tak Islami. Lebih dari itu, Hari Valentine harus dilihat dari kacamata budaya dan substansi, baru kemudian bisa dihukumi.
Baca Juga: Geger! Kepala Sekolah Madrasah Perkosa Siswinya di Ruang Kerja
Jika harus dihukumi, maka Hari Valentine hanyalah sebuah bungkus, seperti layaknya hukum infotainmen. Tinggal apakah isinya? Jika dalam kasus infotainmen di televisi-televisi Indonesia macam-macam, ada yang sekadar memberitakan keseharian para selebritis, itu boleh-boleh saja.
Namun jika sudah masuk para fitnah dan mengumbar keburukan dan bahkan gosip, itu yang dilarang. Hari Valentine pun seperti itu, tinggal bagaimana merayakannya? Jika dirayakan dengan cara yang tidak dilarang agama, maka itu sah-sah saja.
Seperti banyak umat Islam yang menggunakan kata “minggu” dan bulan-bulan non-hijriyyah untuk berbagai kegiatan, tergantung pada perilaku kita sendiri bagaimana.
Valentine Days untuk Generasi Muda Islam.
Kita maklumi bersama bahwa secara historis Islam memang sudah punya Hari Valentine, yaitu hari Pembebasan Kota Suci Mekkah.
Peristiwa yang terjadi pada tahun 630 M atau tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H itu, Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun.
Nabi mengampuni orang-orang yang dulu membuatnya terusir dari Tanah Airnya. Keburukan dan kekasaran yang ditimpakan kepada Nabi dibalas dengan cinta dan kasih sayang.
Selain itu, ada juga tradisi di Bulan Muharram, di mana banyak umat Muslim tanah air yang menjalankan 10 kesunahan di bulan mulia itu, yang salah satunya adalah mengasihi anak yatim dan fakir miskin.
Berbagai kegiatan di bulan Muharram adalah cerminan bahwa umat Islam adalah orang yang peduli kepada anak yatim dan kaum papa. Ini adalah kasih sayang yang agama Islam ajarkan.
Baca Juga: Peringatan HPN, PWI Cianjur Gelar Berbagai Kegiatan
Namun demikian, sebenarnya secara substansi ajaran kasih sayang dalam Islam adalah ajaran yang tidak berlaku surut. Dalam artian, di mana dan kapan pun kita umat Islam dituntut untuk saling mengasihi dan menolong sesama tanpa harus menunggu momentum tertentu.
Setiap hari kita diharuskan menyayangi yang muda, dan menghormati yang tua, terlebih kepada orang tua sendiri. Tetapi juga tidak melarang adanya tradisi atau momentum tahunan, yang di Indonesia ini berlaku, seperti tradisi silaturrahmi Halal Bihalal, Tahlilan, dan lain sebagainya.